Kompas.com - 01/11/2014, 17:26 WIB
|
EditorHilda B Alexander
CIBUBUR, KOMPAS.com - Tak salah bila Jalan Transyogie yang melintasi empat wilayah Kota Jakarta Timur, Kota Depok, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor, disebut sebagai "jalur neraka". Setiap hari jalur ini dipadati ribuan kendaraan. Terlebih saat akhir pekan, Sabtu-Minggu, masyarakat yang haus tempat hiburan dan rekreasi tumpah ruah bersama kendaraannya. 

Pantauan Kompas.com hari ini, Sabtu (1/11/2014) pukul 12.15, mengkonfirmasi label Jalan Transyogie sebagai "jalur neraka". Waktu tempuh dari gerbang perumahan Kota Wisata menuju pintu Tol Cibubur ke arah Jakarta tepat 45 menit. 

Kepadatan kendaraan tak hanya terjadi pada lajur menuju Jakarta. Demikian juga arah sebaliknya, dari pintu Tol Cibubur menuju Cileungsi-Jonggol. Kendaraan padat merayap dengan kecepatan 5 kilometer hingga 10 kilometer per jam. Kondisi semakin parah dengan adanya pekerjaan galian saluran Dinas Pekerjaan Umum yang sudah berlangsung sejak akhir Juni 2014.

Masyarakat yang tinggal di perumahan-perumahan sekitar Jalan Transyogie harus menanggung penderitaan luar biasa. Bukan hanya kerugian waktu yang rata-rata harus ditempuh sekitar 4 jam hingga 6 jam ulang-alik dari rumah menuju tempat kerja di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Namun juga kerugian material senilai ratusan miliar rupiah per bulan. 

"Adik saya yang tinggal di salah satu perumahan di sekitar Jalan Transyogie mengalami kerugian itu. Dia harus berangkat lebih pagi yakni sekitar pukul 05.00. Terlambat sedikit saja, dia harus berjibaku dengan kemacetan yang demikian irasional. Sampai di tempat kerja sekitar pukul 07.30 atau kadang pukul 08.00," beber pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna kepada Kompas.com, Sabtu (1/11/2014).

Yayat menuturkan, adiknya menghabiskan sekitar Rp 5 juta per bulan untuk ongkos transportasi. Dengan asumsi angka serupa dikalikan jumlah 200.000 perjalanan, maka kerugian material yang harus ditanggung masyarakat sekitar Rp 100 miliar per bulan.

Jalan Transyogie menjadi "jalur neraka", kata Yayat, merupakan ekses dari buruknya transportasi publik dan Tata Ruang Kota yang tidak direncanakan memadai. Pertumbuhan kawasan lebih pesat ketimbang kemajuan infrastruktur jalan dan perangkat ekologisnya seperti sistem transportasi terintegrasi.

"Bis-bis pengumpan yang disediakan oleh perumahan-perumahan di sekitar kawasan ini menjadi percuma bila kapasitas dan status jalannya tidak ditingkatkan. Seharusnya pemerintah lintas kota ini bekerjasama dengan jasa marga membangun jalur khusus bis," usul Yayat.

Namun, sebelum kapasitas jalan ditingkatkan dan pengembangan jalur alternatif dilakukan, berikut daya dukung ekologisnya, pemerintah harus segera merealisasikan pembangunan monorel dan mass rapid transit  (MRT) rute Cibubur-Cawang yang sudah digulirkan Menteri BUMN Dahlan Iskan dua tahun lalu.

"Pak (Ignatius) Jonan sebagai Menteri Perhubungan harus peka terhadap penderitaan warga Cibubur dan sekitarnya itu untuk segera merealisasikan pembangunan MRT dan Monorel. Jangan biarkan warga Cibubur menjadi tidak produktif karena harus menanggung kerugian Rp 5 juta per bulan," pungkas Yayat.

 


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.