Kompas.com - 01/10/2014, 20:16 WIB
Pelabuhan Benoa, Bali. WWW.DEPHUB.GO.IDPelabuhan Benoa, Bali.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com -  Bali bukanlah satu satunya pulau di dunia ini untuk direklamasi. Fenomena tersebut bukan hanya dialami di Indonesia, melainkan juga negara-negara maju sehingga daerah pantai menjadi perhatian dan tumpuan harapan dalam menyelesaikan penyediaan hunian penduduk perkotaan.

"Pro dan kontra rencana reklamasi Teluk Benoa sangat masuk akal, karena banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pandangan luas tentang alam ini ikut memberi pandangan reklamasi, apalagi ditambah bumbu politik yang sangat kental termasuk di dalamnya, serta permainan investor tingkat tinggi yang sama sekali tidak di ketahui oleh masyarakat awan,” kata Made Mangku, Ketua Sekretariat Kerja Pelestari dan Penyelamatan Lingkungan Hidup (SKPPLH) di Jakarta, Rabu (1/10/2014).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pakar pesisir Bali itu menambahkan, kondisi Teluk Benoa sekarang ini sudah terjadi pendangkalan yang amat sangat. Selain itu, sedimentasinya sudah hampir menyentuh pesisir mangrove.

"Juga terjadi luberan sampah di mana-mana dengan kondisi dan otomatis tidak ada ikan lagi yang bisa ditangkap nelayan di teluk pada saat laut surut, tapi pada saat pasang masih ada yang masuk perairan teluk, tapi sifatnya sementara. Ikan itu kan bertahan cuma pada saat pasang saja," katanya.

Made mengatakan, jumlah biota laut di teluk tersebut nantinya akan semakin minim. Hal itu disebabkan sedimentasi yang sudah sangat tinggi. Perubahan bentang alam juga telah terjadi, misalnya jalan tol, perluasan Pelabuhan Benoa, terjadi penyumbatan di daerah hilir DAS (daerah aliran sungai), endapan limestones bekas jalan tol yang tidak diangkat, rembesan minyak, serta oli dari kapal-kapal di pelabuhan setiap saat tanpa ada pengawasan.

"Sehingga reklamasi patut dilakukan. Dengan catatan, nelayan dan masyarakat disekitar memastikan bahwa investor wajib menyiapkan tempat budidaya untuk nelayan seperti, keramba ikan, udang, kerang, kepiting dan juga budidaya rumput laut yang tumbuh edemik, yaitu bulung boni dengan biaya alat-alat berbudidaya disiapkan oleh investor. Begitu juga hasil budidayanya, harus disiapkan pasar atau dibeli oleh investor melalui dana CSR perusahaan," katanya.

Berbasis reklamasi

Seiring perkembangan peradaban dan kegiatan sosial ekonominya, manusia memanfatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan. Konsekuensi yang muncul adalah masalah penyediaan lahan bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Agar mendapatkan lahan, maka kota-kota besar menengok daerah yang selama ini terlupakan, yaitu pantai (coastal zone). Kawasan ini umumnya memiliki kualitas lingkungan hidup rendah.

Penyediaan lahan di wilayah pesisir dilakukan dengan memanfaatkan lahan atau habitat yang sudah ada. Beberapa contohnya adalah perairan pantai, lahan basah, pantai berlumpur, dan sebagainya yang dianggap kurang bernilai secara ekonomi dan lingkungan sehingga dibentuk menjadi lahan lain yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan lingkungan atau dikenal dengan reklamasi. Hal itulah yang rencananya akan diterapkan di Pulau Bali, yakni dengan rencana reklamasi Teluk Benoa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.