Kompas.com - 12/09/2014, 16:36 WIB
|
EditorLatief
PEKALONGAN, KOMPAS.com - Tidak kalah dengan kota-kota di pantai utara Jawa lainnya, misalnya Cirebon, Tegal, dan Semarang, kawasan Pekalongan mulai menunjukkan gairah aktivitas bisnis dan industri properti. Kegairahan tersebut ditandai dengan kehadiran PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang membesut pengembangan Citra Garden Pekalongan seluas 10 hektar, hasil kolaborasi dengan mitra lokal PT MPS Sampoerna.

Project Officer Citra Garden, Adhimi Margiarto, menuturkan, sejak masuk pasar pada April 2013, 110 unit hunian Citra Garden Pekalongan terserap habis hanya dalam waktu dua minggu. Harga penawaran perdananya sekitar Rp 158 juta untuk ukuran 30/72.

"Belum lagi terbangun, hanya dalam waktu beberapa bulan harga perdana tersebut merangkak naik menjadi Rp 188 juta dan sekarang harga aktual senilai Rp 215 juta per unit," ujar Adhimi.

Dia menambahkan, minat pasar Pekalongan untuk berinvestasi atau membeli properti untuk dihuni sangat tinggi. Potensi ada, namun belum tereksplorasi dengan baik.

"Potensi luar biasa besar, karena Pekalongan merupakan konsentrasi pengusaha  kaya dengan basis bisnis batik, teh, pengolahan hasil ikan, pelintingan rokok, dan lain-lain dengan omset miliaran hingga triliunan rupiah, Namun, karena belum dieksplorasi pasar potensial tersebut tidak terpenuhi kebutuhannya," ucap Adhimi.

Oleh karena itu, selepas membangun hunian dengan harga terjangkau, CTRA langsung tancap gas dengan memasarkan hunian menengah atas seharga Rp  450 juta untuk ukuran 54/90 sampai Rp 1.5 miliar ukuran 161/200. Sehingga nanti, jumlah total hunian akan sebanyak 350 unit.

"Selain hunian, kami juga memasarkan ruko dan unit-unit komersial dalam area food and fit centrum sebanyak 48 unit dengan kisaran harga Rp 380 juta hingga Rp 558 juta," ucap Adhimi.

Pengguna akhir

Menariknya, kata Adhimi, pasar Pekalongan merupakan pasar riil karena didominasi oleh pengguna akhir. Sebesar 80 persen dari pembeli hunian dan ruko Citra Garden, mereka merupakan pembeli pertama yang memang sangat membutuhkan. Adapun sisanya sebanyak 20 persen merupakan investor asal Jakarta, Balikpapan, Medan, dan Makassar.

"Pembeli pertama hunian adalah keluarga dan pasangan muda atau generasi kedua yang sudah teredukasi dengan baik mengenai peningkatan kualitas hidup di dalam kawasan perumahan berkonsep klaster dengan penataan yang lebih baik," kata Adhimi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.