Kompas.com - 21/08/2014, 10:06 WIB
Suasana pameran produk busana dalam Jakarta Great Sale 2013 di mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (1/6/2013). Jakarta Great Sale 2013 diikuti 74 pusat perbelanjaan dan mal dan digelar selama 1,5 bulan hingga 14 Juli 2013, digelar untuk menyambut hari ulang tahun Kota JAkarta yang ke-486.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANSuasana pameran produk busana dalam Jakarta Great Sale 2013 di mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (1/6/2013). Jakarta Great Sale 2013 diikuti 74 pusat perbelanjaan dan mal dan digelar selama 1,5 bulan hingga 14 Juli 2013, digelar untuk menyambut hari ulang tahun Kota JAkarta yang ke-486.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah menjadi hal lumrah di Jakarta, pusat-pusat belanja tersebar merata di seluruh wilayah. Dalam satu kawasan terdapat tiga hingga empat pusat belanja pun bukan hal mustahil lagi.

Sebut saja kawasan Senayan, di sini terdapat FX PLaza, Senayan Trade Center, Plaza Senayan, dan Senayan City. Sementara di kawasan Kebon Kacang terdapat Plaza Indonesia, Grand Indonesia, dan Thamrin City.

Belum lagi di wilayah-wilayah lainnya seperti koridor Satrio, Jakarta Selatan, yang memang dirancang khusus sebagai International Tourism and Shopping Belt, sudah berdiri kokoh Lotte Shopping Avenue, Mal Ambassador, ITC Kuningan, Kuningan City, dan Kota Kasablanka.

Akan tetapi, menjadi hal istimewa jika hal yang sama terjadi di daerah. Di Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam satu ruas jalan yakni Jl Jend Sudirman, terdapat tiga pusat belanja skala besar. Ketiga pusat belanja tersebut adalah The Balcony (dahulu Pasar Baru Square), The Plaza Balikpapan, dan E-walk Balikpapan Superblock.

Bahkan, pusat belanja tersebut bakal bertambah jumlahnya saat Pentacity Mall, dan The Plaza Balikpapan baru rampung konstruksinya tahun ini hingga 2016 mendatang.

Fenomena apa yang terjadi?

Menurut Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Handaka Santosa, kebutuhan ruang ritel sangat tinggi, seiring dengan ekspansi bisnis para peritel, terutama peritel kelas menengah atas.

"Inflasi tidak mengganggu daya beli kalangan kelas menengah atas. Terlebih penghasilan meningkat sebagai dampak pertumbuhan ekonomi. Mereka akan terus membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan, bukan sekadar kebutuhan pokok, melainkan juga gaya hidup," ujar Handaka.

Menggeliatnya sektor ritel daerah terutama di Kaltim, tambah Handaka, tak lepas dari kebutuhan yang tinggi dari para peritel. Namun, kebutuhan tersebut tidak terakomodasi lantaran pasokan terbatas. Kebutuhan ini terutama berasal dari peritel segmen kelas menengah. Mereka menyasar pasar kelas yang sama dengan daya beli tinggi.

"Ada banyak peritel dari grup-grup menengah dan besar yang menyampaikan keluhan, bahwa mereka sulit mendapatkan space untuk ekspansi. Kalau pun ada ruang, mereka harus rela antri dalam waiting list pusat belanja yang diincar. Akibatnya, target penjualan pun tertahan," kata Handaka.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.