Kompas.com - 13/08/2014, 09:32 WIB
Alun-alun Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat. kompasianaAlun-alun Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat.
|
EditorHilda B Alexander
PONTIANAK, KOMPAS.com - Selain Batam, Pontianak punya posisi strategis menjadi pembuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk sektor properti wilayah Indonesia bagian barat. Ibu kota Kalimantan Barat ini juga sarat potensi untuk dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan bisnis baru dalam skala Nasional.

Demikian dikatakan Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, terkait potensi dan tantangan Pontianak serta kota-kota lainnya di Kalimantan, kepada Kompas.com, Selasa (12/8/2014).

Menurut Ferry, Pontianak punya semua syarat untuk menjadi lebih pantas dilirik investor properti. Kondisi infrastruktur dengan kekuatan pada Bandara Internasional Supadio dan Pelabuhan Pontianak yang terletak ditepi sungai Kapuas, menjadi urat nadi dan stimulan pertumbuhan kota.

"Selain itu, sumber daya alamnya juga sangat berpotensi menarik lebih banyak lagi investor properti menggarap Pontianak. Hinterland  kota didominasi perkebunan, kehutanan, sektor pertambangan serta industri pengolahan bahan mentah skala besar. Perusahaan-perusahaan tersebut tentu saja mempekerjakan karyawan yang butuh hunian, hiburan, dan sejenisnya," tutur Ferry.

Kebutuhan hunian, ruang konsumsi (ritel/pusat belanja), kawasan industri, perhotelan, dan properti komersial lainnya akan semakin meningkat ketika Trans Kalimantan sebagai infrastruktur utama penghubung antarkota terealisasi. Namun, sebelum itu pun, mobilitas pebisnis dan pelancong menuju kota ini sudah berlangsung dinamis.

Data yang diperlihatkan Sekretaris DPD Real Esate Indonesia (REI), Sabar SP Tambunan, menguatkan hal itu. Menurut dia, tingkat okupansi hotel di Pontianak mencapai 65 persen, atau lebih tinggi dari rerata tingkat okupansi provinsi sekitar 53,75 persen.

"Selain itu, produk perumahan kelas menengah juga laku keras. Rumah-rumah seharga Rp 300 juta, Rp 600 juta dan bahkan Rp 1 miliar terserap pasar. Belum lagi rumah subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) selalu terjual habis," ungkap Sabar.

Sayangnya, kata Sabar, meskipun kebutuhan tinggi, namun tidak disertai pasokan yang memadai. Hingga saat ini Pontianak dan Kalimantan Barat kekurangan sekitar 3.000 hingga 5.000 unit rumah per tahun.

Padahal minat untuk membangun sangat tinggi, terutama dari pengembang lokal dan juga pengembang nasional. Sebut saja Ciputra Group yang akan membangun perumahan yang terintegrasi dengan kawasan komersial. Demikian halnya dengan Lippo Karawaci yang membangun pusat belanja, hotel, dan rumah sakit.

"Perizinan menjadi kendala besar yang menghalangi kota ini berlari kencang. Pemerintah daerah  tidak mendukung investasi subsektor perumahan, terutama kelas menengah. Perizinan tidak melalui prosedur yang efektif dan juga berbiaya tinggi. Ini tidak ramah investasi," ucap Sabar.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X