Bank Negara Malaysia mengatakan, penurunan tersebut merupakan kali pertama MHPI di bawah 10 persen sejak kuartal ketiga 2011. Sementara Malaysia House Price Index (MHPI) pada periode yang sama tahun sebelumnya justru masih berada pada posisi 12,2 persen.
Harga rumah tertekan, tulis Bank Negara, dipicu oleh penjualan yang melambat dan berkurangnya produk baru sebagai akibat dari langkah-langkah pendinginan di sektor perumahan sejak 2010.
Langkah pendinginan tersebut di antaranya, larangan skema berbunga pengembang, kenaikan pajak riil untuk keuntungan properti Januari, batasan harga pembelian minimum yang lebih tinggi untuk pembeli asing, dan ketidakpastian mengenai dampak potensial dari pajak barang dan jasa.
Meski mengalami tekanan, Bank Negara menampik anggapan bahwa pasar perumahan Malaysia berada di ambang gelembung (bubble). Buktinya, tulis mereka, sebagian besar pembeli rumah, sekitar 84 persen merupakan nasabah yang hanya memiliki satu akun KPR.