Paviliun Korea, Terbaik di Ajang Bergengsi Venice Biennale 2014

Kompas.com - 18/06/2014, 15:49 WIB
Paviliun Korea di ajang bergengsi, International Architecture Exhibition Venice Biennale 2014. www.dezeen.comPaviliun Korea di ajang bergengsi, International Architecture Exhibition Venice Biennale 2014.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Paviliun gubahan Korea memenangkan penghargaan Golden Lion sebagai terbaik di ajang International Architecture Exhibition, Vennice Biennale 2014.

Paviliun tersebut berhasil menampilkan potensi bersatunya Korea dengan cara menyatukan 40 proyek yang fokus pada kebudayaan Korea Utara dan Selatan.

Sementara, paviliun Jepang dianggap sangat menarik dan intensif karena berhasil memfokuskan dirinya pada kemerosotan ekonomi tahun 1970. Periode tersebut dianggap sebagai titik penentuan bagi modernisme dalam arsitektur Jepang.

Menurut kurator utama International Architecture Exhibition Vennice Biennale 2014, Rem Koolhaas, paviliun yang dibuat Korea dan Jepang sangat menarik perhatiannya. Tidak hanya dibuat dengan begitu serius, penampilannya pun sensasional. 
 
"Pavilion Korea dan Jepang sangat sensasional. Paviliun Korea sukses menggabungkan Korea Selatan dan Korea Utara. Sementara paviliun Jepang juga sangat intensif," imbuhnya.
 
Arsitek asal Belanda tersebut memang menganjurkan para peserta untuk melihat kembali sejarah arsitektur di negara masing-masing dalam 100 tahun terakhir.

Koolhaas meminta negara peserta untuk memfokuskan diri pada periode di mana "proses modernisasi berada pada titik tertajamnya". Tanggapan dari negara-negara peserta pun melebihi ekspektasinya.

 
"Saya ingin melepaskan hubungan dari arsitektur kontemporer karena saya pikir Biennale Arsitektur telah menjadi sangat serupa dengan Biennale Seni. Ada semacam ketidakjelasan dan tampaknya menarik bagi saya untuk mengubah hal itu dan fokus pada arsitektur sebagai sebuah agenda," ujarnya.

Koolhaas menyebut ide temanya ini dengan "Menyerap Modernitas" atau "Absorbing Modernity". Menurutnya, tema tersebut bukan sebagai penerimaan penuh syukur atas perubahan kondisi, melainkan sebuah pukulan hemat namun diterima sebagai proses yang harus dijalani.
 
"Seperti, cara yang sama seorang petinju menerima pukulan dari lawan, dia sangat sadar bahwa pukulan itu adalah proses yang dipaksakan," ujar Koolhaas.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X