Indonesia Belum Melek Teknologi Konstruksi Rumah Murah

Kompas.com - 18/06/2014, 12:08 WIB
Suasana pameran yang diadakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung, Selasa (17/6/2014). Tabita / KOMPAS.comSuasana pameran yang diadakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung, Selasa (17/6/2014).
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander

BANDUNG, KOMPAS.com - Inovasi, khususnya di bidang infrastruktur dan permukiman, terus dihasilkan. Hanya sayangnya, masyarakat Indonesia dan para pemangku kepentingan tidak akrab dengan hasil temuan peneliti lokal. Padahal inovasi teknologi konstruksi tepat guna bisa menjadi solusi penyediaan rumah murah layak huni.

Oleh karena itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum Waskito Pandu mengatakan pentingnya publikasi untuk memperkenalkan hasil temuan badan penelitian dan pengembangan (balitbang). Hal ini dia sampaikan seusai pembukaan acara Kolokium, Open House, dan Pameran Hasil Litbang Bidang Permukiman Kementerian PU di Bandung, Selasa (17/6/2014).

"Bagaimana caranya supaya hasil penelitian ini bermanfaat, satu-satunya jalan adalah publikasi. Bagaimana orang bisa memanfaatkan dan tahu bahwa Balitbang punya produk-produk yang bagus? Bagaimana tahu bahwa di sini punya sumber daya yang baik? Ya publikasi. Paling ampuh sebetulnya," ujar Waskito.

Tabita / KOMPAS.com Kepala Puslitbang Permukiman Kementerian PU Anita Firmanti (tengah) berbicara dalam acara bincang-bincang yang dipandu oleh Tina Talisa, Selasa (17/6/2014).

Sebelumnya, Kepala Puslitbang Permukiman Kementerian PU Anita Firmanti mengatakan para peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim) sudah punya berbagai agenda untuk menyelesaikan isu-isu nasional. Selain itu, penemuan-penemuan baru juga diakomodasi. Ada banyak hal yang bisa digali dan menunggu untuk diketahui oleh para pemangku kepentingan.

"Penggunaan bahan-bahan daur ulang, penggunaan bahan-bahan yang terbarukan, misalnya. Itu kegiatan ke depan untuk menyelesaikan isu-isu nasional. Kami menyediakan lebih dari 30 kesempatan kepada peneliti untuk memajukan kegiatan litbang yang berdasarkan pemikirannya sendiri, hal-hal baru. Ada teman-teman peneliti menghasilkan satu pengolahan air dengan cacing, vermibio processing. Hal-hal seperti itu yang tidak terpikir," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X