Sumbang Rp 900 Triliun PDB Nasional, Pembangunan Infrastruktur Dikebut

Kompas.com - 05/06/2014, 19:50 WIB
Warga melintasi ruas Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Kebon Jeruk-Ciledug di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, sebelum peresmian operasional jalan tol tersebut, Jumat (27/12/2013). Jalan tol sepanjang 5,8 kilometer itu merupakan bagian dari proyek JORR W2 yang akan menghubungkan ruas tol di TB Simatupang dan Tol Jakarta-Merak. KOMPAS/YUNIADHI AGUNGWarga melintasi ruas Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Kebon Jeruk-Ciledug di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, sebelum peresmian operasional jalan tol tersebut, Jumat (27/12/2013). Jalan tol sepanjang 5,8 kilometer itu merupakan bagian dari proyek JORR W2 yang akan menghubungkan ruas tol di TB Simatupang dan Tol Jakarta-Merak.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Peran sektor industri konstruksi sangat vital dalam pembangunan Nasional. Kontribusinya sebesar 9,99 persen atau Rp 907 triliun dari total product domestic bruto (PDB) Nasional atau Rp 9.083 triliun.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, mengatakan kontribusi sebesar ini menjadi sangat strategis bila dikaitkan dengan persiapan Indonesia dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai berlaku pada 31 Desember 2015 mendatang.

"MEA itu memberikan kesempatan kepada pelaku industri konstruksi untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas konstruksi Nasional dan juga sarana bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kompetensi dan pengalaman internasional," ujar Hermanto saat paparan Kesiapan Konstruksi Indonesia Menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kamis (5/6/2014).

MEA, lanjut dia, memungkinkan terjadinya pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil atau pelaku serta penyedia jasa konstruksi. Ini perlu kesiapan matang, terutama terkait kemampuan sektor industri konstruksi Nasional.

"Untuk itu, Kementerian PU sangat mendukung dan memberikan komitmen untuk meningkatkan daya saing industri konstruksi Nasional melalui pembangunan infrastruktur. Saat ini daya saing Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun," tambah Hermanto.

Daya saing Indonesia menurut Global Competitiveness Index (GCI) 2013-2014 berada di peringkat 38 dengan kualitas infrastruktur jalan 78 dari sebelumnya 50 pada 2012-2013 dengan kualitas infrastruktur jalan 90. Posisi Indonesia masih jauh di bawah Singapura (peringkat 2), Malaysia (posisi 24), dan Thailand (37).

Karena itu, sektor konstruksi harus menjadi salah satu prioritas pemerintah mendatang demi mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri sejalan dengan Masterplan Percepatan Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) khususnya dalam peningkatan konektivitas antarpulau dan koridor ekonomi.

"Kami juga tengah membangun Trans Jawa dengan perkembangan pembangunan fisik relatif sudah cukup berhasil. Ke arah selatan sepanjang 30 kilometer, barat 40 kilometer, timur 50 kilometer lebih. Paling besar itu lingkar Jadebotabek karena merupakan kawasan Megapolitan terbesar kedua di dunia setelah Yokohama. Sebelum Lebaran 2014 semua sudah beroperasi. Demikian halnya Trans Sumatera melalui pembangunan Jalur Lintas Timur, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi, pembangunannya tengah kami kebut seiring dengan aturan perolehan lahan baru yang memudahkan kami membangun dengan lancar," imbuh Hermanto.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X