Pasar Melorot, Pengembang Singapura Diskon Harga Apartemen

Kompas.com - 28/04/2014, 14:22 WIB
Fasad apartemen Goodwood Residence di Singapura ditutupi dengan peneduh dari aluminium. Peneduh ini bisa diatur ketinggiannya oleh penghuni apartemen untuk memberikan jumlah sinar matahari sesuai keinginan. Fasad apartemen Goodwood Residence di Singapura ditutupi dengan peneduh dari aluminium. Peneduh ini bisa diatur ketinggiannya oleh penghuni apartemen untuk memberikan jumlah sinar matahari sesuai keinginan.
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Melorotnya pasar properti Singapura, mendorong beberapa pengembang menerapkan diskon harga besar-besaran atas produk terbaru mereka. Pelemahan ini sebagai dampak dari tindakan pendinginan yang dilakukan pemerintah sejak tahun lalu.

Statistik Urban Redevelopment Authority (URA) akhir pekan lalu memperlihatkan penurunan sebesar 1,3 persen selama kuartal I 2014. Kemerosotan ini merupakan terbesar sejak kuartal II 2009. Saat itu, harga jual properti anjlok 4,7 persen.

Unit-unit yang dijual, rerata senilai 1.100 dollar Singapura per kaki persegi atau hampir 20 persen lebih rendah ketimbang diluncurkan pertama kali dua tahun lalu yakni sekitar 1.340 dollar Singapura per kaki persegi.

Contohnya saja, apartemen The Interlance yang dikembangkan CapitaLand. Sejak diluncurkan pada 2009, masih tersisa sebanyak 183 unit per Maret 2014. Demikian halnya dengan The Eight Riversuites di Whampoa East Road, masih memiliki 205 unit yang belum terjual. Padahal, proyek ini dirancang sebanyak 862 unit, namun selama Maret hanya 44 unit yang terjual.

Volume penjualan tersebut merupakan tertinggi dalam satu bulan sejak Juni 2013, saat pemerintah memperketat aturan kredit properti. Di bawah total debt servicing ratio (TDSR), pembeli properti hanya dapat pinjaman hingga 60 persen terhadap total pendapatannya.

Direktur SLP International, Nicholas Mak, berpendapat, pengembang berada di bawah tekanan untuk memotong harga demi meningkatkan penjualan. Jika proyek apartemen tertentu telah diluncurkan selama beberapa waktu dan masih memiliki unit yang belum terjual, sementara proyek ini cukup dekat dengan jadwal penyelesaian, dapat dipastikan mereka akan memangkas harga jual.

"Sebaliknya, jika pembangunan selesai dan masih ada cukup banyak unit yang belum terjual,  mereka (para pengembang) juga bisa menghadapi persaingan ketat dari pengembangan lain yang baru diluncurkan," ujar Mak.

Direktur JLL Singapura, Ong Teck Hui, mengatakan sejak TDSR diperkenalkan pada Juni 2013, jumlah unit terjual memang meningkat sebesar 19 persen dari 5.243 unit pada kuartal II 2013 menjadi 6.247 unit di kuartal I 2014.

"Tetapi, ini mencerminkan melemahnya tingkat serapan untuk proyek yang baru diluncurkan," tandas Hui.

Alhasil, selain memotong harga, pengembang tertarik menerapkan strategi lainnya, yakni  meningkatkan komisi penjualan untuk para agen properti. Stimulus komisi diharapkan dapat menggenjot penjualan apartemen saat ini.

Tahun ini terdapat sekitar 20.000 unit apartemen yang siap diserahterimakan kepada konsumen. Hampir 15.000 lebih banyak ketimbang 2013 yang mencapai 14.400 unit.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X