Kompas.com - 14/04/2014, 13:39 WIB
Shigeru Ban memenangkan Penghargaan Arsitektur Pritzker 2014. Arsitek kelahiran Jepang 1957 tersebut dikenal dengan kecenderungannya menemukan sesuatu yang baru serta desain humanitarian dalam merespon bencana alam. Shigeru Ban Architects / Pritzker PrizeShigeru Ban memenangkan Penghargaan Arsitektur Pritzker 2014. Arsitek kelahiran Jepang 1957 tersebut dikenal dengan kecenderungannya menemukan sesuatu yang baru serta desain humanitarian dalam merespon bencana alam.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Pemenang Pritzker Prize 2014, Shigeru Ban, mengatakan bahwa kerja komersial mulai kehilangan pesonanya di mata para arsitek muda. Mereka kini justeru beralih pada proyek-proyek kemanusiaan.

Shigeru Ban percaya, pikiran para arsitek muda tersebut kini mulai berubah sejak terjadinya berbagai bencana alam. Mereka terpacu menggunakan segenap kemampuannya untuk masalah-masalah kemanusiaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ketika saya masih mahasiswa, semua orang bekerja bagi pengembang besar untuk membuat bangunan besar. Sekarang, ada banyak mahasiswa dan arsitek yang lebih muda ingin bergabung dengan tim saya, untuk membuka program di area bencana," ujar Ban kepada Dezeen.

Perubahan di dunia arsitektur itu tentu diapresiasi oleh Shigeru Ban. Menurutnya, kultur arsitektur kini "bergerak pada dua arah". Dia menyatakan, bahwa angkatan baru arsitek yang lebih muda mulai memalingkan perhatiannya dari pekerjaan urban. Kendali kini diberikan oleh para arsitek kepada pengembang.

"Kini, kota-kota dibangun oleh pengembang, bukan arsitek atau perencana kota. Kota-kota dibangun oleh pengembang. Jadi, di satu sisi seperti ini, tapi banyak orang tertarik bekerja untuk masyarakat juga," ujarnya.

Shigeru Ban selama ini dikenal bukan hanya karena karya arsitekturnya yang istimewa, namun juga karena dia mau terjun ke daerah bencana. Hampir setiap tahun, Ban turun ke daerah yang terkena bencana.

Saat ini, menurut pengakuan sang arsitek, dia tengah bekerja di Filipina setelah bencana topan tahun lalu. Dia membangun rumah sementara, serta fasilitas-fasilitas komunal permanen.

Ban percaya, bukan hanya arsitek muda Jepang yang tergerak oleh bencana di tanah kelahirannya. Dia yakin, arsitek muda di seluruh dunia juga tertarik dengan pekerjaan kemanusiaan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Dezeen
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.