Kompas.com - 10/03/2014, 10:35 WIB
Pemerintah Korea Utara menggandeng investor China guna mengembangkan kawasan Sinuiju, di perbatasan. www.wikimedia.orgPemerintah Korea Utara menggandeng investor China guna mengembangkan kawasan Sinuiju, di perbatasan.
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Pesatnya investasi lintas negara yang dilakukan pengembang China, Jepang, dan Korea Selatan, tak hanya diantisipasi negara-negara Eropa, dan Amerika Serikat. Korea Utara juga ikut membuka keran modal asing masuk ke negaranya dengan menyewa agen properti China.

Pemerintah Korea Utara menugaskan agen tersebut untuk mencari investor guna menggarap lahan di kota perbatasan Sinuiju. Ini adalah kali pertama bagi Korea Utara membuka pintu bagi asing untuk turut serta mengembangkan wilayahnya dengan skema penjualan lahan di luar zona ekonomi khusus Rajin, Sonbong, dan Pulau Hwanggumpyong. Selama ini, kawasan Sinuiju sangat tergantung pada China Utara, seiring isolasi internasional, dan sanksi global.

Analis IBK Economic Research Institute, Cho Bong-hyun mengatakan, Korea Utara mencoba menawarkan properti mereka di pusat kota Sinuiju kepada pengembang atau investor China. Mereka mematok harga 180.000 yuan (Rp 334,5 juta) per meter persegi untuk masa sewa 50 tahun. Setelah itu, investor mendapat kebebasan untuk mempertahankan, menjual atau menggunakannya sebagai jaminan mendapatkan pinjaman.

"Korea Utara sangat membutuhkan mata uang asing, meskipun mereka telah menggenjot hasil laut, namun ini kian sulit di tengah hubungan yang tegang dengan Beijing sejak pelaksanaan pembatasan komoditi," ujar Cho.

Ketergantungan perdagangan Korea Utara di China telah meningkat dari 88,3 persen pada 2012 menjadi hampir 90 persen. Negeri ini menjual bijih besi dan mineral ke China dengan harga dasar sangat murah. Sementara di sisi lain, mereka belanja besar-besaran untuk mengimpor minyak, biji-bijian dan kebutuhan sehari-hari. Sehingga menciptakan defisit perdagangan kronis. Pada tahun 2012, defisit dengan China tercatat sebesar 1,04 miliar dollar AS (Rp 11,8 triliun).

Ketergantungan lainnya adalah saat akhir
2012, China menyelesaikan pembangunan infrastruktur berbasis rel berkecepatan tinggi yang menghubungkan Harbin dan Shenyang. Mereka bahkan memperluasnya sampai ke Dandong, Jilin dan Hunchun di perbatasan Korea Utara. Bantuan ini menempatkan China di posisi terdepan untuk menangani proyek-proyek kereta api dan jalan di Korea Utara. Walhasil, untuk saat ini, koneksi Korea Utara dengan dunia luar, harus melalui Beijing.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber chosun
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.