Kompas.com - 25/02/2014, 11:38 WIB
|
EditorLatief
KOMPAS.com — Untuk kali pertama dalam 14 bulan terakhir, laju pertumbuhan harga properti China mulai mereda. Hal ini mengindikasikan bahwa kampanye pemerintah dalam meredam dan mengendalikan risiko gelembung properti mulai menampakkan hasil.

Data Biro Statistik Nasional atau National Bureau of Statistics (NBS) memperlihatkan perlambatan pertumbuhan harga pada Januari 2014 sebesar 9,6 persen di 70 kota besar yang disurvei. Padahal, pada Desember 2013 lalu, pertumbuhan harga masih bertengger di angka 9,9 persen. Dengan demikian, terjadi perlambatan harga untuk kali pertama sejak November 2012.

Sebenarnya, gejala perlambatan sudah mulai terlihat sejak tahun lalu. Kendati harga rumah melonjak, pasar hunian mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum seiring langkah pengetatan yang dilakukan pemerintah pusat guna mencegah risiko gelembung.

"Inilah hasil serangkaian langkah dari pemerintah, termasuk pembatasan pengetatan di beberapa kota. Pemerintah berkonsentrasi menambah pasokan rumah layak huni dan terjangkau sehingga mampu menciptakan pasar dan harga yang relatif lebih stabil," ujar pakar statistik senior NBS, Liu Jianwei.

Pengetatan kredit, menurut Liu, dapat mengurangi tekanan persediaan, sekaligus mendorong penurunan penjualan rumah. Kelak, pada akhirnya, kenaikan harga rumah menjadi lebih moderat. 

Awal tahun ini, harga rumah di Beijing hanya mengalami kenaikan sekitar 14,7 persen dibandingkan pada Januari 2013. Sementara itu, di Shanghai, harga turun menjadi 17,5 persen pada Januari tahun ini, dari sebelumnya sebesar 18,2 persen pada Desember 2013.

Kinerja pertumbuhan harga, menurut Liu, juga dipengaruhi oleh aktivitas liburan Tahun Baru China. Saat itu, semua level aktivitas bisnis merosot drastis, termasuk dalam hal penjualan rumah.

Pemotongan harga

Beberapa pengembang di kota-kota lapis kedua, seperti Hangzhou, sudah mulai memangkas harga rumah. Mereka melakukan hal ini karena sangat membutuhkan uang tunai agar arus kas perusahaan berjalan lancar (Baca: Nyaris, Separuh Kota di China Hadapi "Bubble" Properti!).

Pengetatan kredit memaksa pengembang lebih realistis dan moderat dalam menetapkan harga jual rumah. Harga yang lebih "masuk akal" bakal mereka tempuh dalam beberapa tahun ke depan. NBS menunjukkan data bahwa harga rumah di kota tersebut turun 0,1 persen ketimbang pada tahun sebelumnya.

"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa akan lebih banyak lagi pengembang yang menjalankan strategi pemotongan harga karena berbagai alasan tertentu," ujar analis Barclays, Alvin Wong.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.