Kompas.com - 13/02/2014, 16:52 WIB
Pengunjung melihat beragam properti yang ditawarkan di ajang Indonesia Property Expo 2014 di jakarta Convention Centre di Jakarta, Minggu (9/2/2014). Pameran yang akan berlangsung hingga 16 Februari 2014 diikuti 160 pengembang yang menampilkan 500 proyek properti. Selain properti di Jadebotabek, juga ditawarkan properti dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk investasi. KOMPAS/IWAN SETIYAWANPengunjung melihat beragam properti yang ditawarkan di ajang Indonesia Property Expo 2014 di jakarta Convention Centre di Jakarta, Minggu (9/2/2014). Pameran yang akan berlangsung hingga 16 Februari 2014 diikuti 160 pengembang yang menampilkan 500 proyek properti. Selain properti di Jadebotabek, juga ditawarkan properti dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk investasi.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati tahun 2013 pasar properti Indonesia diguncang kenaikan BBM, lonjakan suku bunga dan regulasi Bank Indonesia mengenai Loan to Value, ternyata tak memengaruhi niat pengembang merealisasikan investasinya.

Sepanjang 2013 lalu, nilai kapitalisasi pasar properti Nasional mencapai Rp 219 triliun. Nilai kapitalisasi ini bahkan tumbuh 15 persen ketimbang tahun sebelumnya yakni Rp 186,150 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Data tersebut dikemukakan pengamat properti Nasional, Panangian Simanungkalit, kepada Kompas.com, Kamis (13/2/2014).

Menurut Panangian, tumbuhnya nilai kapitalisasi pasar properti Indonesia didorong oleh aksi ekspansi perusahaan pengembang kakap yang semakin agresif seiring kenaikan permintaan akibat meningkatnya daya beli, baik di kawasan Jadebotabek, maupun di kota lapis kedua di seluruh Indonesia.

Pengembang tersebut, di antaranya adalah PT Lippo Karawaci Tbk di beberapa kota, termasuk Makassar, Sulawesi Selatan, Padang (Sumatera Barat), dan Medan (Sumatera Utara), PT Pakuwon Jati Tbk di Surabaya (Jawa Timur), PT Alam Sutera Realty Tbk di Serpong, Banten, dan PT Bumi Serpong Damai Tbk, juga di Serpong, Banten dan beberapa kota lainnya.

"Aksi ekspansi tersebut membuat nilai kapitalisasi pasar tumbuh positif. Dari jumlah senilai itu, 85 persennya dikuasai oleh properti untuk segmen menengah, dan menengah bawah," jelas Panangian.

Dari segi jenis properti, lanjut Panangian, mayoritas adalah hunian (apartemen dan residensial tapak), disusul properti komersial perkantoran, dan pusat belanja.

Baca juga:

Catat... Tiga Faktor Penghambat Pertumbuhan Properti

Jakarta Masih yang Terpanas di Dunia!Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.