Kompas.com - 24/12/2013, 14:47 WIB
|
EditorHilda B Alexander
SINGAPURA, KOMPAS.com - Seperti halnya Indonesia yang akan menghadapi sejumlah tantangan besar terkait nasib sektor properti pada 2014 mendatang, demikian pula halnya dengan Singapura.

Sektor properti di negeri semenanjung yang telah mendapatkan manfaat dari kenaikan harga hunian dan kebijakan moneter yang longgar dalam beberapa tahun terakhir, akan menghadapi tekanan besar. Tahun ini, menurut para analis, merupakan tahun yang menantang bagi emiten dan saham properti.

Terlepas dari kekhawatiran tentang pengaruh langkah-langkah stimulus di Amerika Serikat, pasar properti telah terpukul oleh upaya pendinginan lebih lanjut, pengetatan aturan pembiayaan rumah dan pasokan hunian baru yang meningkat.

Indeks FTSE ST Real Estate Holdings and Development melorot sekitar 11 persen per Desember 2013, yang ditutup Senin (23/12/2013) pada angka 704,77 poin. Padahal, pada 1 Februari lalu mencatat angka tertinggi yakni 840,84 poin.

Analis Voyage Research, Liu Jinshu, mengatakan, penurunan ini terutama dipimpin oleh pengembang properti besar seperti CapitaLand sahamnya anjlok 10 persen serta City Developments sebesar lebih dari 20 persen.

"Secara keseluruhan, jika Anda melihat daftar pengembang properti yang terdaftar di Singapore Stock Exchange, sekitar 13 dari mereka memiliki pengembalian negatif tahun ini. Sementara  sekitar 23 dari mereka memiliki hasil yang positif," jelas Liu.

Tahun 2014, Liu memperkirakan akan penuh tantangan. Pengembang harus mengatasi potensi tingkat penjualan yang lebih lambat. Margin menjadi terbatas dan kenaikan harga juga tak bisa tinggi, seiring meningkatnya biaya konstruksi.

"Kami pikir angka moderat kenaikan harga lima persen sampai 10 persen. Saya tidak mengharapkan margin meningkat secara substansial karena sampai batas tertentu, biaya konstruksi telah naik. Saya akan mengatakan kita tidak bisa berharap margin sebesar 30 sampai 40 persen, 20 persen justru akan cukup baik," imbuh Liu.

Meski tantangan berat akan terjadi pada semester pertama, kondisi sebaliknya justru terjadi pada semester II 2014. Saat itu, akan terjadi koreksi harga saham, bisnis yang lebih beragam, arus kas berulang yang kuat dan daya tarik valuasi menjadi lebih tangguh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.