Kompas.com - 21/11/2013, 13:24 WIB
Nasib hotel bujet diprediksi bakal suram. ciputragroupNasib hotel bujet diprediksi bakal suram.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Masa depan bisnis hotel bujet (ekonomi) tahun 2014 dan dua tahun setelahnya, diprediksi tidak segemilang tahun 2011-2013. Tahun depan, memulai bisnis hotel murah ini dianggap tidak layak (feasible).

Demikian diungkapkan Direktur Ciputra Property Tbk, Artadinata Djangkar, kepada Kompas.com, Rabu (20/11/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurutnya, kadar kelayakan bisnis hotel ekonomi sudah mulai tergerus karena lonjakan harga lahan yang tak terkendali. Sementara untuk mengembangkan sebuah hotel atau fasilitas akomodasi itu harus mempertimbangkan lokasi.

"Semakin dekat atau berada di pusat kota, maka harga lahannya semakin mahal. Di beberapa kota tujuan wisata, harga lahan sudah di atas Rp 5 juta per meter persegi. Bahkan ada beberapa di antaranya sudah menyentuh level dua digit. Meskipun, benar bahwa hotel bujet di tengah kota berpotensi meraup jumlah tamu sekaligus pendapatan signifikan, namun tetap harus mempertimbangkan kelayakannya," papar Arta.

Bisa jadi, lanjut Arta, jika dipaksakan memulai bisnis hotel bujet tahun depan, estimasi pay back menjadi lebih lama. Contohnya, pihaknya menganggarkan dana sekitar Rp 40 miliar-Rp 50 miliar untuk mengembangkan satu hotel ekonomi. Lokasinya berada di pusat kota, strategis dan memiliki aksesibilitas memadai. Dengan tarif per malam Rp 350.000-Rp 450.000, Arta mengasumsikan dapat mencapai pengembalian modal (pay back period) dalam waktu 6 hingga 8 tahun ke depan.

Asumsi Arta diamini Direktur Pelaksana Metropolitan Golden Management (MGM) Basari Bachri. Menurutnya, return on investment hotel kelas menengah, baik budget, bintang dua maupun tiga, lazimnya 7 tahun.

Saat ini, Ciputra Property tengah menggarap pembangunan CitraDream di sejumlah kota di Indonesia. CitraDream merupakan brand hotel bujet yang mereka bangun dan kelola sendiri di bawah PT Ciputra Hospitality. CitraDream akan hadir di Cirebon, Semarang, Banjarmasin, Bengkulu, Yogyakarta, Bandung, Serpong dan Jakarta.

Sementara sebagian besar lainnya, yakni 12 hotel lagi dalam pipeline bisnis hospitalitas Ciputra Property, menunggu siklus properti membaik.

"Untuk saat ini kami menunda pengembangan baru sampai situasi memungkinkan. Kami mencari kesempatan (oportunity), saat siklus tengah turun, akan akuisisi lahan dengan harga murah untuk dikembangkan sebagai hotel bujet," imbuh Arta.

Terlebih, pasok hotel di kota-kota tujuan wisata dan bisnis, dianggap berlebih. Sehingga Tingkat Penghunian Kamar (TPK) menurun. TPK hotel di Yogyakarta mengalami penurunan menjadi 78,4 persen selama periode Januari-Oktober 2013 untuk hotel bintang 3-5 ketimbang periode yang sama tahun lalu 88,5 persen. Sementara hotel melati non bintang sebesar 63,1 persen dibanding 65,4 persen tahun 2012.

Sedangkan di Bali, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sampai akhir 2011 saja, telah dipenuhi 22.000 kamar hotel. Jumlah ini membengkak ketika setahun kemudian terdapat tambahan sekitar 3.400 kamar. Berturut-turut Bali akan disesaki sekitar 4.700 kamar pada 2013 dan 4.100 kamar pada 2014-2016. Sehingga menggenapi jumlah 34.226 kamar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.