Kompas.com - 09/10/2013, 17:19 WIB
Ilustrasi: Apartemen merupakan jenis properti yang tengah marak dikembangkan di Makassar. www.shutterstock.comIlustrasi: Apartemen merupakan jenis properti yang tengah marak dikembangkan di Makassar.
|
EditorHilda B Alexander
MAKASSAR, KOMPAS.com - Kawasan Indonesia Timur yang telah diincar pengembang besar sebagai lahan investasi sejak beberapa tahun silam, semakin memperlihatkan geliat pertumbuhan signifikan. Terbukti dari aktivitas ekonomi yang bergerak positif, terutama didorong oleh bisnis komoditas, agrikultur, dan perdagangan.

Bahkan di kota-kota level pertama, sarat pembangunan fisik, mulai dari permukiman, hotel, pusat belanja, perkantoran dan fasilitas komersial lainnya dengan Makassar sebagai magnit pertumbuhannya.

Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini mengalami transformasi paling pesat. Tak mengherankan bila Makassar ditahbiskan menjadi pintu gerbang dan destinasi investasi utama untuk Kawasan Indonesia Timur.

Pertumbuhan ekonomi Makassar yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai rerata 8,5 persen per tahun, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Nasional 5,9 persen. Ini mengindikasikan potensinya untuk menarik lebih banyak lagi investasi. Terutama investasi sektor properti, seperti perumahan, apartemen, hotel, dan pusat belanja.

Oleh karena itulah, pengembang sekaliber PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Ciputra Group, dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berani mempertaruhkan reputasi mereka di sini. LPKR baru saja melansir superblok The St. Moritz Makassar Penthouse and Residences di atas lahan seluas 2,7 hektar.

Proyek yang digarap pengembang dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 24 triliun tersebut terdiri atas 12 jenis properti, di antaranya adalah apartemen yang terangkum dalam dua menara, salah satunya setinggi 51 lantai dikombinasikan dengan hotel bintang lima. Selain itu, terdapat pusat belanja dengan area sewa seluas 75.000 meter persegi, sekolah Pelita Harapan, sinema 10 teater, pusat hiburan dan kuliner serta lounge serbaguna.

The St. Moritz Makassar Penthouse and Residences merupakan proyek kedua LPKR. Sebelumnya, mereka telah mengembangkan perumahan skala kota Tanjung Bunga Makassar seluas 1.000 hektar melalui anak usahanya, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Untuk merealisasikan proyek ini, LPKR memproyeksikan kebutuhan dana sebesar Rp 3,5 triliun.

Sementara Ciputra Group memperkuat eksistensinya dengan proyek Vida View Apartment. Mereka menjalin aliansi bisnis dengan Galesong Group untuk membangun proyek yang berupa tiga menara hunian vertikal tersebut.

Menyusul kemudian APLN yang akan mengusung waterfront city dengan luasan lahan total 300 hektar. Tahap awal pengembangan yang akan dikerjakan adalah seluas 2-3 hektar dari total 15 hektar lahan yang telah diakuisisi. Sementara dua pertiga dari total kebutuhan lahan tersebut akan dilakukan melalui proses reklamasi.

Menurut Marketing Director APLN, Indra W Antono, lahan seluas 2-3 hektar tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan outdoor theme facilities. Fasilitas yang terdapat di dalamnya adalah pusat kuliner, water sport facilities, dan family and entertainment center.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.