Depok yang Macet dan Gersang....

Kompas.com - 21/09/2013, 11:21 WIB
RTH di Depok saat ini hanya 13  yang mencakup publik dan pribadi, sehingga perlu diatur ulang. KOMPAS.com/M. LATIEFRTH di Depok saat ini hanya 13 yang mencakup publik dan pribadi, sehingga perlu diatur ulang.
Penulis Latief
|
EditorLatief
DEPOK, KOMPAS.com — Pembenahan tata ruang, termasuk pembenahan infrastruktur mau tak mau harus segera dilakukan Pemerintah Kota Depok. Wajah kota ini semakin dihantui kemacetan, panas gersang, dan tanpa ciri khas di tengah meningkatnya pembangunan yang seolah tanpa konsep yang jelas. 

Sebagai kawasan yang dianggap pusat pembangunan, Margonda Raya selalu macet saat peak hours. Bahkan, tiap akhir pekan, kawasan Juanda sebagai jalan alternatif yang baru dibangun sebagai pendukung Margonda, juga macet.

Sebagai kawasan bergengsi kota ini, Margonda juga sangat gersang. Pepohonan di sepanjang ruas jalan ini benar-benar "bersih". 

"Rencana pembangunan (RT\RW) di Depok tidak terarah, sepertinya tak punya konsep yang jelas. Semua pembangunan hanya pada satu titik saja, terpusat di Margonda," tutur P Anggoro (37), warga Depok.

Menurut dia, sudah saatnya izin trayek angkutan kota ditinjau ulang agar tidak terlalu mudah diberikan tanpa memperhatikan kondisi jalan serta volume kendaraan yang melintas. Seperti bisa dilihat, lanjut Anggoro, ada beberapa "terminal bayangan" di beberapa titik jalan, sementara sarana dan prasarana bagi pejalan kaki tidak maksimal karena kadung diserobot pedagang dan pemilik usaha di sepanjang jalan sejak gerbang utama Margonda.

"Tanpa trotoar memadai dan jembatan penyeberangan, ini yang menyebabkan macet sepanjang hari. Pelebaran jalan yang dua tahun lalu dilakukan, ternyata hasilnya tidak bisa dinikmati, karena pemilik kafe dan pedagang malah menyerobotnya," ujarnya.

Anggoro bilang, dengan hanya memusatkan pembangunan di Margonda, Depok benar-benar tidak punya konsep pembangunan yang jelas. Padahal, lanjut dia, Depok yang diharapkan sebagai kota penyangga bagi Jakarta berfungsi sebagai daerah resepan air dan daerah konservasi.

"Yang ada sekarang malah menjadi kota jasa perdagangan. Itu tentu bagus, cuma tidak dibarengi pembenahan infrastruktur, seperti jalan. Pasti, selamanya akan macet terus," katanya.

Warga lainnya, Ahmad Rizali, mengatakan, Depok seharusnya mudah diatur karena relatif homogen. Hanya, ia menyayangkan sikap pemerintah Kota Depok yang terkesan tidak peduli dengan tata kelola lingkungan hidup sehingga menebang habis pohon di kawasan Margonda.

"Depok terlihat tumbuh tanpa ciri kota, menggelinding begitu saja. Sebagai warga Depok, saya kecewa. Harusnya Depok bisa cantik. Pada malam hari Margonda itu bisa menjadi kawasan kuliner yang tertata rapi," ujar pengamat pendidikan ini.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X