"Golden Moment" Pembangunan Jembatan Selat Sunda Sudah Berlalu

Kompas.com - 06/09/2013, 01:40 WIB
Feri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Rabu (10/8/2011). Pemerintah berencana membangun Jembatan Selat Sunda untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATFeri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Rabu (10/8/2011). Pemerintah berencana membangun Jembatan Selat Sunda untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com — Momentum emas (golden moment) pelaksanaan tiang pancang pembangunan megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS) dan juga Kawasan Strategis Industri Selat Sunda (KSISS) sudah lewat. Pemicunya, apalagi kalau bukan dinamika yang terjadi di pemerintahan terkait masalah politis dan opsi pembiayaan. Oleh karena itu, studi kelayakan yang seharusnya sudah bisa dihasilkan setahun pasca-Perpres Nomor 86 tahun 2011, tak kunjung dilakukan.

Demikian dikatakan Direktur Artha Graha Network, Wisnu Tjandra kepada Kompas.com, seusai Simposium Nasional Arsitektur Jembatan Selat Sunda, di Jakarta, Kamis (5/9/2013). Artha Graha Network merupakan pemrakarsa JSS/KSISS sekaligus pemegang saham mayoritas konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS)

"Momentum emas sudah terbentuk sejak 2012 tepat setahun setelah Perpres tersebut diberlakukan. Sedianya, tahun ini hasil studi kelayakan (feasibility study) secara komprehensif termasuk di dalamnya masalah lingkungan, pembiayaan (mencakup estimasi ongkos konstruksi, besaran tiket JSS, payback period) dan potensi pertumbuhan ekonomi. Pembangunan tiang pancang sebagai indikator dimulainya konstruksi megaproyek ini bisa direalisasikan pada 2014 mendatang. Namun, karena dinamika tersebut, semua hal mengalami penundaan," urai Wisnu. 

Momentum emas, lanjut Wisnu, memang sudah lewat. Namun, bukan berarti momentum berikutnya tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. "Tergantung ketegasan pemerintah kapan gong dipukul, kami siap melaksanakannya," imbuhnya.

Menurut Wisnu, jika saja dinamika atau polemik dalam bahasa pakar struktur Wiratman Wangsadinata selaku konsultan JSS, dapat diredam sebelum 2012 berakhir, akselerasi pembangunan JSS/KSISS bisa terjadi lebih cepat.

"Betapa jika hal tersebut dilakukan maka multiplier effect megaproyek ini akan sangat luar biasa. Selain dapat memperpendek waktu tempuh Banten-Lampung dari 4 jam menjadi 30 menit juga akan menstimulasi aktivitas sekaligus pertumbuhan GDP," tandas Wisnu.

Sayangnya, aku Wisnu, hingga saat ini pihaknya sama sekali belum mendapat informasi terbaru mengenai proyek ini. Bahkan, tak pernah diajak lagi dalam pertemuan-pertemuan formal lanjutan untuk membahas pembangunan JSS/KSISS.

Sebagai pemrakarsa, mereka tidak berkeberatan apabila pemerintah menghentikan iniasiasi dan mengambil alih proyek ini. Bila pun pemerintah memutuskan untuk mencari mitra baru dan digandengkan dengan Artha Graha, tetap akan diikuti.

"Kami tidak berkeberatan dan tidak ingin membebani pemerintah. Namun, jika pemerintah menunjuk pihak lain, maka pihak yang ditunjuk ini harus mampu menyelesaikan semua hal yang telah dilakukan Artha Graha selama ini, termasuk pra-studi fisibilitas," tandas Wisnu.

Adapun hasil pra-studi kelayakan 2009 menyebut estimasi anggaran membangun jembatan dengan bentang 2.200 meter dan panjang 25 kilometer tersebut adalah sebesar 10 miliar dollar AS. Kalaupun ada perubahan, kata Wisnu, tak jauh dari estimasi tersebut. Sementara perkiraan tarif yang akan dikenakan sebesar Rp 500.000 per kendaraan roda empat.

 


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X