Kompas.com - 31/08/2013, 12:33 WIB
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com — Jakarta memang masih menjadi lokasi pilihan investasi properti di Asia, bahkan dunia. Namun, ibu kota Indonesia ini bukanlah kota layak huni (livable city). Jakarta masih belum bebas dari banjir, sampah, kemacetan, masalah keamanan, dan polusi.

Menurut riset The Economist yang dilansir Jumat (30/8/2013), Jakarta tidak termasuk kota dalam 60 peringkat pertama yang diprediksi bakal menempati posisi lebih atas. Sementara London dan New York menempati posisi 53 dan 56. Kedua kota ini memiliki masalah terorisme dan kriminalitas.

Lantas, kota mana yang paling layak huni? Dalam daftar "The Most Livable City in The World", media ini menyebut Melbourne sebagai kota paling layak untuk dihuni. Salah satu kota tersibuk di Australia ini menggeser Wina, Austria, dan pemenang abadi Vancouver, Kanada.

The Economist membuat formulasi kota terlayak berdasarkan 30 faktor yang dikelompokkan  dalam lima kriteria utama, yakni stabilitas, kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, dan infrastruktur. Melbourne terpilih sebagai pemegang tampuk livable city karena infrastrukturnya terbangun dan terjalin dengan sempurna di setiap sudut kota. Selain itu, kota ini juga mendapat skor tertinggi untuk bidang kesehatan dan pendidikan.

Yang menarik, dan sekaligus menohok, adalah peringkat 10 besar justru didominasi Australia dan Kanada. Mereka menguasai tujuh peringkat, sementara tak satu pun kota perwakilan negara Amerika Serikat yang bertengger di posisi bergengsi. Selain Melbourne, Australia diwakili oleh Adelaide, Sydney, dan Perth. Adapun Kanada menempatkan Vancouver, Toronto, dan Calgary. Peringkat lainnya diduduki Helsinki (Finlandia) dan Auckland (New Zealand).

Kota dengan skor terbaik cenderung menjadi kota menengah di negara-negara kaya dengan kepadatan penduduk yang relatif rendah. Hal ini bisa mendorong berbagai kegiatan rekreasi tanpa mengarah ke tingkat kejahatan tinggi atau beban infrastruktur.

The Economist memberikan skor kepada 140 kota yang disurvei dengan tingkatan berbeda sesuai tantangan gaya hidup yang berkembang di kota-kota bersangkutan.

Secara keseluruhan, hasil pemeringkatan tingkat layak huni ini tidak berubah banyak dari tahun ke tahun. Faktor terbesar yang memengaruhi bergesernya peringkat adalah kerusuhan sipil (sosial), seperti yang terjadi di Damaskus, Suriah. Kota ini jatuh ke peringkat terbawah.

Selain Damaskus, kota terburuk lainnya adalah Teheran (Iran), Douala (Kamerun), dan Tripoli (Libya).

Sementara kota-kota lain yang juga sempat dilanda kerusuhan dan kekerasan tetapi telah mereda adalah Bogota. Kota di Kolombia ini mencatat kenaikan tertinggi, bergeser ke peringkat 111. Hal ini tak lepas dari penurunan ancaman terorisme, kekerasan, dan penculikan.

Bagaimana dengan kota "artifisial" seperti Dubai di Uni Emirat Arab? Ternyata, menurut The Economist, posisinya naik tajam ke peringkat 77.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.