Kompas.com - 30/08/2013, 19:01 WIB
|
EditorHilda B Alexander
Bloomberg Luas rumah kapal ini berukuran 760 kaki kersegi dengan plafon yang rendah. Penghuni dan tamu harus merundukkan kepala untuk memasuki ruang-ruang di dalamnya. Meski begitu, fitur yang terdapat di dalamnya lumayan lengkap.
Bloomberg Setiap empat sampai lima tahun sekali, bagian bawah harus dibersihkan dan secara berkala membuat perbaikan bagian-bagian tertentu yang diperlukan.
KOMPAS.com — Anda ingin merasakan kehidupan terapung di atas air? Cobalah untuk tinggal di rumah kapal milik pasangan Marry LaBissoniere dan Eric Rothlisberger. Selain bentuknya yang istimewa, pengalaman tidur dan menghabiskan waktu dalam bangunan yang bergerak sangat berbeda ketimbang rumah di atas tanah.

Marry dan Eric menyewa satu di antara 34 rumah kapal di kota Seattle, Amerika Serikat. Keduanya mendekorasi rumah kapalnya layaknya hunian-hunian pada umumnya. Sapuan cat ungu dan emas yang mencolok mata, memudahkan kita mengenalinya dari jauh.

Rumah terapung ini berawal dari sebuah kapal tongkang yang dibangun pada tahun 1980-an. Seusai menyepakati transaksi sewa dengan pemiliknya, Marry dan Eric pun mulai melakukan renovasi interiornya pada Februari lalu. Mereka "merampingkan" fungsi-fungsi ruangan menjadi lebih sangkil dari sebelumnya.

Luas rumah kapal ini 760 kaki persegi dengan plafon yang rendah. Penghuni dan tamu harus merundukkan kepala untuk memasuki ruang-ruang di dalamnya. Meski begitu, fitur yang terdapat di dalamnya lumayan lengkap.

Tamu akan disambut oleh sebuah ruang tamu mungil, lengkap dengan sofa dan aksesori bertema vintage serta karpet lembut bercorak ungu yang menutupi lantai parket. Beranjak sedikit ke dalam, terdapat dapur yang juga bernuansa ungu berikut kabinet dan peralatan memasak.

"Kami menggunakan oven 'propana'. Kami juga harus membeli peralatan untuk memastikan lampu 'pilot' tetap menyala," jelas Marry.

Bagaimana dengan urusan kebutuhan biologis seperti buang air kecil dan besar? Keduanya harus membayar 18 dollar AS atau setara Rp 196.722 seminggu untuk membayar petugas pemompa limbah toilet. Sedangkan untuk keperluan mencuci, mereka memanfaatkan jasa binatu di darat.

Merasakan kehidupan di atas air, sama halnya dengan menghadapi badai dan arus pasang. Jika terjadi kedua fenomena alam ini, mereka harus memperbaikinya dengan biaya lebih mahal. Apalagi bila kerusakan parah terjadi di bagian luar kapal, mereka terpaksa harus membawanya keluar dari air.

Setiap empat sampai lima tahun sekali, bagian bawah harus dibersihkan dan secara berkala membuat perbaikan bagian-bagian tertentu yang diperlukan.

"Ada banyak hal yang harus mendapat perhatian dan perawatan khusus bila ingin memiliki rumah terapung ini," ujar Eric. Namun, itu tak menjadi hambatan, karena keduanya masih senang tinggal di dalamnya dan akan terus menyewanya.

Apalagi bila momen Hari Kemerdekaan tiba, setiap tanggal 4 Juli mereka akan menyaksikan pesta kembang api dari atas dek atap rumah kapal. Sungguh, sebuah pengalaman hidup yang mengesankan!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.