Kompas.com - 30/08/2013, 16:54 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Pencapaian sektor properti Indonesia, khususnya Jakarta, pada kuartal I dan II tahun ini memang mengesankan. Pertumbuhan terjadi di hampir seluruh lini mulai dari permintaan, pasok, hingga harga. Properti residensial, dan juga komersial seperti pusat belanja, perkantoran, hotel serta kawasan industri melesat ke rekor tertinggi.

Namun, mencermati gejolak perekonomian yang dipicu depresiasi Rupiah dan gonjang ganjing Pasar Saham, akankah pencapaian tersebut dapat terulang? Beberapa pengembang mengaku tetap optimis, kendati kadarnya sudah mulai menipis.

Direktur Ciputra Property, Artadinata Djangkar, mengatakan, pihaknya masih yakin sektor properti akan tetap tumbuh, karena fluktuasi ekonomi sekarang merupakan reaksi yang overshoot dan sifatnya jangka pendek. Volatilitas nilai tukar masih akan berlangsung selama 3-6 bulan ke depan.

"Setelah itu, seharusnya kondisi akan membaik, kembali normal. Kondisi pasar properti sebelumnya, terlalu hot. Saya kira dalam pertengahan hingga akhir tahun ini masih akan tumbuh baik dengan akselerasi pertumbuhan yang wajar," ujar Artadinata kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (30/8/2013).

Ciputra, lanjut Arta, tidak akan menunda pembangunan proyek baru, seperti menara perkantoran kedua dalam area pengembangan Ciputra World 1 Jakarta. Mereka juga tetap menyelesaikan konstruksi hotel dan apartemen.

"Pembangunan menara perkantoran atau Tower 4 tetap sesuai jadwal. Untuk menjawab kebutuhan ruang kantor sewa. Saat ini saja, DBS Tower (gedung perkantoran pertama) sudah tersewa 90 persen dan terisi 60 persen. Harga sewanya mencapai Rp 350.000 per meter persegi per bulan. Sementara ruang kantor yang dijual seharga Rp 47 juta-Rp 50 juta per meter persegi," papar Arta.

Namun, kuatnya permintaan dan tingginya harga tersebut masih harus diuji, dan apakah masih bisa dipertahankan. Selain volatilitas nilai tukar, juga pasar saham yang terus anjlok akibat penarikan uang oleh investor AS yang justru memulihkan ekonomi mereka. Setelah penurunan pada bulan Agustus, pasar saham secara kumulatif melorot 23 persen selama tiga bulan terakhir.

Berakrobatnya pasar saham tersebut telah mengundang beberapa pengamat asing menarik perbandingan dengan krisis keuangan Asia pada tahun 1997. Menurut Chief Investment Officer for Asia and Middle East Coutts Bank, Gary Dugan, kewajiban jangka pendek Indonesia sama dengan hampir 90 persen dari cadangan devisanya.

"Itu membuat pemerintah Indonesia kesulitan mempertahankan depresiasi mata uang tanpa menaikkan suku bunga lebih agresif, atau menerapkan langkah-langkah untuk menghambat arus keluar modal asing," ujar Gary seperti dikutip Alex Frew McMillan dalam sebuah tulisan di Worldpropertychannel.

Bank Indonesia tak mengubah suku bunga sebesar 6,5 persen pada pertemuan 15 Agustus lalu, dan sejauh ini hanya menaikkan sebesar 75 basis poin tahun ini. Pemerintah telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen menjadi 6,8 persen tahun depan, tidak jauh di belakang tingkat ekonomi China saat ini.

Tapi, lanjut Gary, Indonesia bisa terjerembab lebih cepat dari prediksi awal jika bank sentral dipaksa untuk menaikkan suku bunga lebih signifikan, yang akan membantu menarik investasi luar negeri dan menstabilkan Rupiah.

Untungnya,  Dugan tidak melihat pengulangan 1997, ketika bank sentral Asia mempertahankan  mata uang mereka ke titik terendah yang menyebabkan resesi besar. Kali ini bank sentral justru tidak mempertahankan mata uang mereka. Negara-negara Asia juga memiliki jumlah utang yang jauh lebih rendah dari kreditor asing dibandingkan dengan tahun 1997. Saat itu, utang mereka meroket dalam dollar AS, sementara mata uang Asia terpuruk.

Sementara, lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P) menyebut Indonesia adalah satu-satunya pasar properti di Asia Tenggara dengan pertumbuhan positif. Pasar akan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, suku bunga KPR rendah, peningkatan pendapatan rumah tangga dan migrasi urban yang terus berkembang.

"Perbaikan infrastruktur cenderung memacu pengembangan properti, sedangkan penjualan kondominium dan properti lainnya telah terbukti tangguh," ujar Christopher Lee dan Bei Fu.

Tingkat penjualan ini, menurut  S&P, akan berlanjut hingga akhir 2013 setelah laju pertumbuhan yang cepat selama 12 bulan. Pengembang properti akan menemukan 2013 merupakan tahun yang baik.

Namun begitu, mereka akan semakin menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pertumbuhan melalui aksi disiplin keuangan. Ini lantaran meroketnya harga tanah akan membuat keadaan lebih sulit untuk mempertahankan sekaligus memperluas bank tanah yang sehat, serta realisasi pembangunan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.