Mungkinkah Signature Tower Terbangun?

Kompas.com - 06/07/2013, 17:07 WIB
Situs Signature Tower di CBD Sudirman, Jakarta. www.skyscrapercity.comSitus Signature Tower di CBD Sudirman, Jakarta.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com- Signature Tower merupakan calon pencakar langit pertama di Indonesia yang masuk kategori megatall versi Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH). Ketinggiannya mencapai 638 meter dengan jumlah 111 lantai.

Gedung jangkung milik Grahamas Adisentosa (anak usaha Danayasa Arthatama) ini dirancang oleh Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc. (SRSSA). Mereka menggandeng mitra lokal Pandega Desain Weharima. Candi Borobudur merupakan inspirasi sekaligus semangat yang diinterpretasikan ke dalam desainnya.

Sebuah maha karya, bagaimana pun bentuknya memang selalu mengundang perhatian. Lebih lagi bangunan spektakuler dengan bujet yang juga fantastis macam Signature Tower ini. Jika kemudian muncul pro dan kontra, itu wajar saja.

Dari sudut pandang arsitektur, untuk bangunan setinggi itu, hasil rancangan SRSSA dan PDW sekarang dianggap berbagai kalangan terlalu biasa.

"Tidak banyak arsitek yang mengusulkan fasad sesuai dengan lokasi. Kalau pun ada "kandungan lokal", hasilnya kurang bagus karena sekadar tempelan atau sama sekali tidak ada relasi dengan lokasi. Abai terhadap local vernacular dan diferensiasi," ujar Aditya W Fitrianto, arsitek Jakarta.

Managing Director Pandega Desain Weharima, Toyok Prasetyoadi membantah fasad dan crown menyerupai candi Borobudur sekadar tempelan. Itu merupakan unsur utama yang mengikat unsur-unsur lainnya seperti teknologi, modernitas, dan manusia.

"Jadi, tampilan visual, tidak sebatas merepresentasikan kemajuan teknologi, juga simbol budaya dan humanity," ujarTiyok.

Executive Director CTBUH Antony Wood mengatakan perobek langit yang ditujukan sebagai tengara kota haruslah mampu membawa sebuah defisinis baru. Tidak hanya berbeda dalam ketinggian atau ekstrusi vertikal dari denah yang efisien. Melainkan juga memiliki variasi tekstur dan skala dalam sebuah rancangan yang harmonis.

"Ada fungsi baru yang akan diperkenalkan, bersifat komunal, dan terbuka sebagai ruang rekreasi baru bagi publik. Namun, yang terpenting adalah bahwa sebuah pencakar langit, mampu menciptakan relasi sosial antara manusia, gedung dan lingkungan sekitar," imbuh Antony kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (5/7/2013).

Sebenarnya, menurut Head of Research and Advisory Cushman and Wakefield Arief Rahardjo, tinggi dan rendahnya sebuah bangunan dampak signifikannya hanya terjadi pada desain arsitektural dan struktur yang memengaruhi efisiensi floor plan-nya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X