Rumah Tradisional Lebih Tahan Gempa

Kompas.com - 04/07/2013, 09:44 WIB
Agus Salim (40), warga Desa Mane, Kecamatan Mane, Pidie, Aceh, Rabu (23/1/2013), menunjukkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat gempa 6,0 SR yang mengguncang sebagian wilayah Aceh, Selasa (22/1). Agus kehilangan seorang anaknya, Tutia Rahmi (9), yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan rumahnya saat gempa terjadi. KOMPAS/MUHAMMAD BURHANUDINAgus Salim (40), warga Desa Mane, Kecamatan Mane, Pidie, Aceh, Rabu (23/1/2013), menunjukkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat gempa 6,0 SR yang mengguncang sebagian wilayah Aceh, Selasa (22/1). Agus kehilangan seorang anaknya, Tutia Rahmi (9), yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan rumahnya saat gempa terjadi.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait gempa di Aceh pada Selasa (2/7/2013) yang menewaskan sebanyak 24 orang, 210 luka-luka, dan ribuan bangunan rusak, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejatinya telah melakukan sosialisasi rumah tahan gempa. Sosialisasi ini dilakukan terutama di daerah-daerah rawan gempa.

Namun sayangnya, sampai saat ini, belum banyak rumah-rumah tahan gempa yang dibangun di Indonesia. Padahal negara ini memiliki banyak wilayah yang dilewati sesar aktif dan juga gempa daratan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, belum banyaknya rumah tahan gempa di Indonesia karena harganya mahal. Rumah tahan gempa memiliki penanganan khusus di bagian siku dan fondasi.

"Ini terkait ekonomi masyarakat. Rumah tahan gempa harganya lebih tinggi 30 persen ketimbang rumah biasa. Itulah sebabnya belum semua rumah di daerah rawan gempa dirancang tahan gempa," kata Sutopo, kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (3/7/2013).

Namun begitu, lanjut Sutopo, banyak juga masyarakat yang tetap mempertahankan  rumah-rumah dengan gaya tradisional yang terbukti lebih mampu menahan gempa. Rumah yang dibangun berbasis kearifan lokal selama ratusan tahun dapat bertahan dari goncangan gempa.

Gempa bumi Selasa lalu, berkekuatan 6,2 SR, terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Tercatat   24 korban meninggal dunia. BNPB memastikan, sebagian besar korban meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan. Adapun jumlah bangunan yang mengalami kerusakan yang terdata hingga saat ini berjumlah 300 rumah yang terdapat di dua kabupaten, yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X