Kompas.com - 05/04/2013, 14:25 WIB
EditorHILDA HASTUTI

JAKARTA, KOMPAS.com - Konstelasi bisnis dan industri properti Indonesia saat ini tengah memuncak. Pengembang berlomba membangun proyek prestisius dengan nilai investasi triliunan rupiah. Proyek-proyek ini tak hanya hadir di daerah komersial terkenal di Jakarta macam Sudirman CBD atau Kuningan CBD, juga di daerah seperti Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, Solo dan Balikpapan.

Setiap jengkal lahan di kota-kota tersebut, sarat proyek properti baru dengan skala besar. Sebut saja Ciputra World Jakarta dan The City Center (keduanya di Jakarta), Tunjungan City Superblock dan Puncak Bukit Golf (Surabaya), Crystal Square dan Medan Focal Point (Medan), serta Skyline City Education Center dan City Center (Bandung).

Kondisi aktual tersebut mencuatkan aroma kompetisi antarpengembang yang luar biasa ketat. Persaingan ini tidak saja terjadi di antara sesama pengembang lawas, juga pengembang anyar. Mereka berusaha merebut dan mempertahankan hegemoni masing-masing dengan proyek yang unik, menarik, dan terbaik.

Siapa saja pengembang yang menguasai dan sukses mempertahankan citra sebagai raja properti Indonesia? Berdasarkan besaran nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) per 31 Maret 2013, Kompas.com mencatat sepuluh pengembang yang pantas ditahbiskan sebagai raja.

Berikut para penguasa pasar properti Indonesia:

Nomor satu ditempati Lippo Karawaci. Pengembang kota mandiri terintegrasi "Lippo Village" ini memiliki kapitalisasi senilai Rp 29,539 triliun. Selain Lippo Village, mereka tengah menggarap megablok St Moritz Penthouse & Residences di Puri Indah, Jakarta Barat dan Holland Village di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Timur.

Disusul Bumi Serpong Damai yang giat mengembangkan BSD City dengan nilai Rp 28,170 triliun. Selain kota baru BSD City, pengembang berkode emiten BSDE ini juga telah melansir Indonesia International Expo. Megaproyek ini merupakan hasil kolaborasi BSDE dan Kelompok Kompas Gramedia.

Berturut-turut posisi selanjutnya adalah Alam Sutera Realty (Rp 20,042 triliun), Pakuwon Jati (Rp 17,819 triliun), Summarecon Agung (Rp16,951 triliun), Ciputra Development (Rp 16,530 triliun), Agung Podomoro Land (Rp 10,147 triliun), Duta Pertiwi (Rp 6,937 triliun), dan Modernland Realty (Rp6,329 triliun).

Sementara Ciputra Property menempati posisi buncit dengan nilai kapitalisasi Rp 5,781 triliun. Peringkat mereka terdongkrak olehCiputra World Jakarta seluas lebih dari 11 hektar. Superblok ini berisi 15 tower apartemen, hotel, perkantoran, apartemen sewa, ruang konvensi dan pusat belanja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.