Antara Kolam, Pramono, dan Lukisan

Kompas.com - 15/05/2011, 04:16 WIB

 Putu Fajar Arcana

Air yang mengalir di sungai selalu menyuburkan padi-padi di sawah petani. Tetapi, jarang yang menyadari bahwa sungai membutuhkan mata air agar kesuburan itu terus-menerus terjadi. Begitulah juga sifat sebuah lukisan. Ia tergantung di dinding sebagai sumber, dan tanpa disadari mengalirkan keteduhan, kedamaian….

Ketika pintu gerbang kayu digeser, kita akan bertemu dengan pohon-pohon besar, seperti sukun, melinjo, kenitu, sawo kecik, dan durian, yang hidup berimpitan. Di bawahnya sebuah setapak berlapis kayu mengantarkan kita ke bagian tengah. Sebuah kolam yang biru menghampar, di sekelilingnya tumbuh pohon brangsok (pandan bali) dan dua pohon jepun (kamboja bali) terpelihara baik. Lalu di selatan kolam ada dua pasang patung kodok yang menyemburkan air. Gemercik air itu mengingatkan kelokan-kelokan sungai di pedesaan yang memancarkan keasrian alam.

Kolam di rumah keluarga Pramono Anung Wibowo di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, ibarat titik pusat aktivitas. Pada sisi kanan dan kirinya terdapat dua gugusan bangunan bergaya modern dengan sentuhan minimalis. Bangunan-bangunan ini mengingatkan kita pada kenyamanan ruangan di resor-resor tempat berlibur seperti Bali.

Ratusan lukisan, dari lukisan klasik kamasan sampai lukisan-lukisan para maestro dan karya-karya kontemporer digantung di seluruh dinding. Lukisan-lukisan itu bahkan menyebar dari garasi, dapur, toilet, kamar mandi, kamar tidur, perpustakaan, mushala, ruang keluarga, ruang kerja, sampai ruang fitness. Hampir tak ada dinding yang bebas dan dibiarkan kosong.

Di antara kolam dan lukisan itulah Pramono menemukan inspirasi dan kedamaian. Ia seolah sedang memadukan kedalaman nuansa Jawa dan kedamaian warna-warna Bali. ”Saya selalu merindukan keduanya,” kata Pramono.

Endang Nugrahani, istrinya yang duduk di sampingnya, tampak setuju. Endang bahkan begitu fasih menceritakan lukisan-lukisan yang menjadi koleksi keluarga ini. ”Itu lukisan orang Belgia itu disimpan di mana?” tanyanya.

”Oh, itu Le Mayeur ada di ruang kerja saya di kantor,” jawab Pramono. Keduanya kemudian berdebat beberapa saat soal keberadaan lukisan-lukisan yang mereka koleksi. ”Enak lho, yang bagus-bagus disimpan di kantornya…,” kata Endang kemudian. Pramono hanya tersenyum….

Nuansa

Pohon-pohon besar yang tumbuh di halaman serta mushala di bagian depan rumah memang memancarkan aura Jawa yang kental. Sementara gugusan rumah di balik pohon-pohon itu didesain mendekati nuansa Bali modern. Bali tidak diterjemahkan ke dalam fisik-ornamentik, tetapi dihadirkan dengan cara mentransformasi nilai kenyamanannya. ”Saya selektif di dalam menerima tamu karena rumah buat kami tempat sembunyi,” kata Wakil Ketua DPR ini.

”Biasanya, sih, tamu-tamu keluarga saja,” tambah Endang.

Kami berbincang di sebuah ruangan, yang kira-kira berukuran 15 x 10 meter di sisi barat kolam menjelang petang, awal pekan ini. Di ujung ruangan, di tempat yang agak terlindung terdapat ruangan kebugaran pribadi keluarga ini. Tiga kali dalam seminggu Pramono Anung berolahraga dengan didampingi seorang instruktur. Dan sekali seminggu ia bersepeda seorang diri sampai menjajal wilayah Tangerang. Pramono mengoleksi lebih dari tujuh sepeda dalam berbagai spesifikasi. ”Saya termasuk maniak olahraga,” tuturnya.

Pramono menerjemahkan rumah sebagaimana ia mengingat ibu. Ke mana pun ia pergi, selalu tidak lupa menelepon ibunya. ”Saya selalu mendapat doa…” katanya. Rumah pun tak jauh beda. Sesibuk apa pun, Pramono selalu mewajibkan dirinya untuk pulang. Bahkan, fasilitas yang diberi negara berupa kamar hotel, jika ia sedang mengikuti rapat-rapat di Jakarta, tidak pernah sekali pun ia pakai. ”Saya orang yang homesick,” katanya.

Ketika kembali ke rumah, ia merasa seperti kembali ke pelukan ibu. Ada kedamaian dan kenyamanan yang tidak ia dapatkan di luar. Itulah antara lain sebabnya ia membangun rumahnya senyaman mungkin agar pancaran di dalamnya menumbuhkan kedamaian bagi para penghuninya.

Praktis, sehari-hari Pramono hanya hidup bertiga bersama istri dan Hanifa Fadhila Pramana, anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP. Sementara anak lelakinya, Hanindhito Himawan Pramana, memilih kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Oleh sebab itu, beberapa kamar di rumah itu dibiarkan kosong. Hanya lukisan-lukisan di dindingnya yang tetap meruapkan aura kenyamanan.

”Semua terasa berbeda kalau ada lukisan,” kata Pramono. Diam-diam, lukisan juga sering kali memberi inspirasi dalam kiprahnya sebagai politisi kawakan. Setidaknya, citraan-citraan yang dipancarkan oleh kebudayaan membuatnya selalu mendalam saat melihat persoalan.

Di situ lukisan memiliki nilai kesejajaran dengan mata air. Daripadanya kedalaman intelektual dan kesuburan itu dialirkan….


Editor

Close Ads X