Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pusat Data, "New Normal" di Kawasan Industri

Tren bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai konsekuensi dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuntut transformasi cepat di sektor properti.

Karena itulah, pemanfaatan teknologi informasi makin masif dan intensif, melahirkan kebiasaan baru atau kerap disebut "New Normal".

Ketua Apindo Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi Sanny Iskandar memprediksi, seiring digitalisasi di segala bidang, kebutuhan properti yang mendukung "New Normal" ini akan makin meledak usai Pandemi Covid-19.

Jika beberapa tahun silam, transformasi terjadi di sektor transportasi, bisnis makanan, dan perdagangan dengan konsep daring, kini saatnya pelaku bisnis properti membaca "New Normal" ini sebagai peluang menjanjikan.

"Pembangunan gedung-gedung dan bangunan-bangunan seperti perkantoran, pergudangan, dan ruang-ruang logistik harus suitable dengan kebutuhan pasar seiring New Normal ini," ujar Sanny yang juga menjabat Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri menjawab Kompas.com, Selasa (28/4/2020).

Menurut Sanny, kebutuhan pasar yang akan booming adalah data center. Terbukti dari beberapa transaksi terakhir, kebanyakan berhubungan data center baik untuk kebutuhan logistik, otomotif, maupun manufaktur.

Hal ini karena pasar domestik Indonesia memiliki peluang dan potensi sangat besar. Masyarakat Indonesia cepat menyesuaikan diri dengan perubahan.

Melek teknologi, selalu ingin di depan dalam perubahan, serta rajin berselancar melalui internet, adalah gambaran masyarakat Indonesia terkini.

Tak mengherankan jika raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon, membenamkan dananya di Indonesia.

Tak tanggung-tanggung mereka berinvestasi senilai Rp 35 triliun untuk mengembangkan Amazon Web Services (AWS) di tiga kawasan industri (KI) sekaligus.

Ketiga KI ini adalah Greenland International Industrial Center (GIIC) Kota Deltamas, Karawang International Industrial City (KIIC), dan Suryacipta Industrial City.

"Padahal, ketiga kawasan ini berdekatan. Namun, inilah fenomena dan akan menjadi tren di masa yang akan datang. Data center, adalah kebutuhan pasar masa depan," imbuh Sanny.

Dia menyimpulkan New Normal di sektor properti diawali dari transaksi yang terkait data center. 

Pembelian lahan terus berjalan

Kendati secara umum sektor properti diprediksi bangkit lebih lama, Colliers International Indonesia menyebut tahun 2022 sebagai awal kebangkitan, namun Sanny melihat hal berbeda.

Menurutnya, di sub-sektor KI pembelian lahan masih terus berjalan. Baik yang masih dalam proses negosiasi harga, sudah berjalan, maupun dalam proses penjajakan.

Para investor yang aktif dalam pembelian lahan KI ini adalah mereka yang siap dalam hal antisipasi jika situasi pandemi Covid-19 berakhir.

"Mereka bisa lebih prepared merealisasikan ekspansi bisnis dan investasinya. Baik di sektor manufaktur, maupun logistik," imbuh dia.

Oleh karena itu, harga lahan KI pada Kuartal I-2020 tetap tumbuh meski dalam angka moderat di tengah Pandemi Covid-19.

Dalam riset Leads Property Indonesia harga tanah KI di Jabodetabek relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Harga lahan KI rata-rata mencapai Rp 2,708 juta per meter persegi, atau tumbuh tipis 1,35 persen.

Namun demikian, CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono memperingatkan, KI bisa jadi merupakan sub-sektor terakhir yang dapat mengatasi pandemi, sementara sub-sektor properti lainnya seperti kantor, ritel, dan hotel telah mengurangi aktivitas bisnis mereka sebelumnya.

Jika PSBB diterapkan pada KI, maka akan banyak perusahaan menghadapi keadaan di mana mereka harus mengurangi kapasitas produksi untuk sementara.

Pada gilirannya, mirip dengan apa yang terjadi di subsektor komersial. Memangkas jumlah karyawan akan menjadi strategi paling rasional untuk kelanjutan bisnis mereka.

"Kecuali untuk beberapa industri yang masih diizinkan atau sangat didukung oleh pemerintah untuk beroperasi "seperti biasa" selama pandemi, sambil mematuhi protokol keselamatan Covid-19," kata Hendra.

Meskipun terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pandemi ini akan selesai pada akhir tahun 2020, namun sub-sektor KI diperkirakan akan membutuhkan beberapa bulan untuk pulih  sepenuhnya.

"Karena sektor ini adalah salah satu yang sangat menopang perekonomian Indonesia," tuntas Hendra.

https://properti.kompas.com/read/2020/04/29/070000021/pusat-data-new-normal-di-kawasan-industri

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar