Bangun Infrastruktur, Pemerintah Diminta Belajar dari Negara Lain - Kompas.com

Bangun Infrastruktur, Pemerintah Diminta Belajar dari Negara Lain

Kompas.com - 12/02/2018, 23:00 WIB
Retakan yang muncul di sisi kiri Jalan Perimeter Selatan. Belum diketahui penyebab retaknya bagian dinding tersebut, Tangerang, Selasa (6/2/2018).kompas.com/ridwan aji pitoko Retakan yang muncul di sisi kiri Jalan Perimeter Selatan. Belum diketahui penyebab retaknya bagian dinding tersebut, Tangerang, Selasa (6/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya kasus kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur menimbulkan pertanyaan besar terkait penerapan prosedur operasional standar tentang keselamatan kerja.

Pemerintah pun diharuskan belajar banyak dari negara lain tentang pentingnya sistem manajemen kinerja untuk mengurangi kasus kecelakaan kerja yang terjadi.

Baca juga : Komisi V DPR: Kecelakaan Marak, Direksi Waskita Harus Mundur

"Anda bisa bayangkan, bangunan yang dibangun kontraktor asing, diawasi oleh asing, (hasilnya) bagus. Contohnya, Jalan Tol Jagorawi," kata pengamat kebijakan publik Agus Pambadio kepada Kompas.com, Senin (12/2/2018).

Sekadar informasi, Jalan Tol Jagorawi dibangun pada medio 1973 hingga 1978. Jalan tol sepanjang 59 kilometer ini dibangun oleh kontraktor utama asal Korea Selatan, Hyundai.

Tak berlebihan bila PT Jasa Marga (Persero) Tbk selaku operator jalan tol ini menyebut Jagorawi sebagai masterpiece jalan tol.

Situasi lalu lintas di Tol Jagorawi arah Ciawi dari Jakarta keembali normal pada Minggu sore (4/9/2016) setelah truk LPG milik PT Pertamina (Persero) Tbk berhasil dievakuasi.Dokumentasi Jasa Marga Situasi lalu lintas di Tol Jagorawi arah Ciawi dari Jakarta keembali normal pada Minggu sore (4/9/2016) setelah truk LPG milik PT Pertamina (Persero) Tbk berhasil dievakuasi.
Pasalnya, sampai sekarang konstruksi jalan tol yang menghubungkan antara Jakarta, Cibubur, Citeureup, Bogor, hingga Ciawi ini masih prima.

"Bandingkan dengan seluruh jalan tol (yang ada), paling bagus masih Jalan Tol Jagorawi. Atau bandingkan dengan LRT dan MRT, coba lihat sendiri ke atas, beda nggak? Beda. Karena yang ngawasi beda," tutur Agus.

Baca juga : Akibat Serentetan Kecelakaan Kerja, Waskita Karya Dijatuhi Sanksi

Memang, di dalam setiap proyek infrastruktur, ada konsultan pengawas yang dikontrak untuk mengawasi pekerjaannya. Namun, menurut Agus, konsultan tersebut tak bisa bekerja dengan baik, meski telah dibayar sesuai kontrak.

Tercatat, dalam enam bulan terakhir 12 kasus kecelakaan kerja terjadi dalam proyek konstruksi infrastruktur. Dari jumlah tersebut, lima kasus di antaranya terjadi pada proyek yang digarap PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Proses pembersihan reruntuhan tembok di Jalan Perimeter Selatan Bandara Soekarno-Hatta masih terus dilakukan, Rabu (7/2/2018). Satu unit mobil yang tertimbun tanah di lokasi itu sudah bisa dipindahkan pada Selasa malam.Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.com Proses pembersihan reruntuhan tembok di Jalan Perimeter Selatan Bandara Soekarno-Hatta masih terus dilakukan, Rabu (7/2/2018). Satu unit mobil yang tertimbun tanah di lokasi itu sudah bisa dipindahkan pada Selasa malam.
Selain itu, ada pula kasus kecelakaan pasca proyek telah rampung dan diresmikan, yaitu proyek Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, pada proyek yang juga digarap oleh Waskita itu, terjadi dua kali kecelakaan dalam sepekan terakhir.

Pertama, ambruknya dinding beton dan tanah longsor underpass Jalan Perimeter Selatan, Senin (5/2/2018) sore.

Akibat peristiwa itu, seorang wanita meninggal dunia tertimbun reruntuhan saat berada di dalam mobil.

Selang sepekan, gerbang dekat perlintasan kereta ambruk dan mengenai seorang sekuriti yang berada di lokasi, hingga membuatnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lanjutan.


Komentar
Close Ads X