Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wah...BTN Butuh Suntikan Modal Lagi!

Kompas.com - 16/02/2012, 11:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Gatot M Suwondo meminta pemerintah menambah porsi modal dalam Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada Bank BTN. Pihak BTN menyatakan hal itu karena pendanaan mereka terbatas.

"FLPP banyak ditangani oleh Bank BTN, padahal pendanaan BTN terbatas. Jadi, sebaiknya porsi pemerintah, khususnya bagi BTN, harus lebih dari 50 persen," kata Gatot di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perumahan Rakyat mengusulkan agar komposisi sumber dana dari pemerintah dan perbankan menjadi 50:50 dari 60:40 dalam perjanjian kerja sama operasional (PKO) 2012 untuk FLPP. Sementara usulan bunga pada kisaran 7% dari kisaran 8,15% - 9,95%.

Namun, BTN yang menyalurkan 99,2 % FLPP pada 2011 belum menyetujui usulan tersebut. BTN mengajukan usulan skema sumber dana pemerintah dan perbankan adalah 60:40, sementara suku bunga KPR FLPP adalah 7,42%.

"Bank Mandiri, BNI dan BRI sudah setuju untuk skema 50:50 dan bunga 7,25% , itu sudah untung sedikit, paling tidak di atas break even point," tambah Gatot.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi pada acara yang sama mengatakan, bank yang dipimpinnya akan ikut dalam FLPP bila BTN juga masuk.

"Bukopin statusnya sama dengan BTN. Kalau 50:50 kami tidak sanggup. Jadi, kalau BTN masuk dalam skema FLPP, kami pun masuk karena struktur biaya BTN mirip dengan Bukopin," kata Glen.

Ia menambahkan, Bukopin lebih memilih porsi 60-70 persen pendanaan berasal dari pemerintah.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com