Rabu, 26 November 2014
Ledjie Taq, Penggerak Komunitas Wehea
Jumat, 11 September 2009 | 17:23 WIB
|
Share:
Kompas/Ambrosius Harto
Ledjie Taq

Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso

Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah mengharumkan komunitas Dayak Wehea sampai ke tingkat nasional dan internasional. Sukses itu sebenarnya tidak terlepas dari kegigihan Ledjie Taq, Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing, untuk mengangkat kehormatan dan martabat warga Wehea.

Komunitas Wehea diyakini sebagai pemukim awal di antara warga Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Desa Nehas Liah Bing diakui kalangan Wehea sebagai desa tertua di antara enam desa komunitas itu di Muara Wahau. Di desa itulah Ledjie Taq mengabdikan hidupnya sebagai guru sekolah dasar, peladang, kepala adat, suami Valensia Lenyie, serta bapak dari satu anak laki- laki dan tiga anak perempuan.

Keterbukaan Ledjie Taq mendorong warga Wehea bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga pemerhati kelestarian lingkungan hidup. Kerja sama itu menghasilkan perlindungan terhadap 38.000 hektar hutan yang sebelumnya dikelola PT Gruti III menjadi Hutan Lindung Wehea (HLW) pada 2004. Dari sinilah mereka menerima sejumlah penghargaan bergengsi bidang lingkungan hidup.

Lembaga Adat Dayak Wehea, Desa Nehas Liah Bing, menerima penghargaan Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan hidup pada Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni lalu. Anugerah tertinggi bidang lingkungan hidup ini diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Ledjie Taq, mewakili warga Nehas Liah Bing.

Ledjie Taq juga menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Pratama yang diserahkan Presiden Yudhoyono pada 15 Agustus lalu.

”Kebahagiaan yang luar biasa. Kami tidak menyangka apa yang kami lakukan ternyata dihargai begitu tinggi,” kata Ledjie Taq yang ditemui sebelum berangkat ke Jakarta untuk menerima Bintang Jasa Pratama.

Bintang Jasa Pratama merupakan tanda kehormatan dari pemerintah bagi warga sipil setelah penghargaan tertinggi Bintang Mahaputra. Bintang Jasa Pratama yang terdiri atas tingkatan Utama, Pratama, dan Nararya disematkan kepada siapa pun yang telah mengabdi kepada negara secara mengagumkan di bidang nonkemiliteran.

Selain itu, pengakuan masyarakat internasional terhadap warga Wehea terbukti pada Oktober 2008. Warga Wehea dianugerahi penghargaan Schooner Prize di Vancouver, Kanada, atas kegigihan mereka memperjuangkan, mempertahankan, dan melestarikan Hutan Lindung Wehea.

Melindungi rimba

Di tengah maraknya penghancuran hutan karena pembalakan liar dan investasi, warga Wehea justru giat memproteksi hutan. Mereka sukses menginisiasi kawasan bekas pengusahaan hutan PT Gruti III menjadi Hutan Lindung Wehea.

Hutan Lindung Wehea dalam bahasa Wehea disebut Keldung Laas Wehea Long Skung Metgueen. Hutan dalam wilayah tanah adat Wehea itu dipertahankan guna generasi mendatang. Itulah sukses kerja sama warga dengan pemerintah dan lembaga internasional The Nature Conservancy.

Ledjie Taq mengatakan, Hutan Lindung Wehea boleh dimanfaatkan, tetapi amat terbatas dan cuma untuk acara adat. Hutan Lindung Wehea dilindungi aturan adat dan dijaga secara rutin oleh pengamanan swadaya Petkuq Mehuey dari Nehas Liah Bing. Pelanggar aturan adat di sini dikenai sanksi adat, kemudian diserahkan kepada penegak hukum.

Anggota Petkuq Mehuey bertugas menjaga kawasan bersama para personel Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea. Patroli swadaya itu terdiri atas kaum muda yang punya keterampilan memonitor jenis serta jumlah flora dan fauna di hutan. Mereka diberi honor setiap bulan yang dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kutai Timur.

Berkali-kali anggota Petkuq Mehuey menangkap pelaku pembalakan liar, pemburu binatang langka, dan pencuri hasil hutan nonkayu. Warga juga aktif menyelamatkan satwa-satwa liar yang tersasar ke areal permukiman, dengan menyerahkan hewan itu kepada pemerintah.

Melalui Petkuq Mehuey, warga membuat persemaian untuk jenis pohon lokal, seperti meranti, kapur, agatis, dan karet, di Hutan Lindung Wehea dan desa. Tetumbuhan itu untuk merehabilitasi kawasan sekitar desa yang kritis akibat eksploitasi perusahaan kehutanan dan ekspansi perkebunan kelapa sawit.

Sejak ditetapkan sebagai hutan adat, pembalakan dan perburuan liar menurun drastis. Warga Wehea telah membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjaga kelestarian hutan tempat mereka bergantung. Mereka meyakini, kegiatan konservasi dan budaya sebenarnya tak terpisahkan dari keseharian hidup.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pernah mengutarakan kebanggaannya terhadap perjuangan warga Wehea. Komunitas yang begitu peduli dengan kelestarian hutan di antara gempuran pelbagai kepentingan yang ingin menghancurkan lingkungan hidup.

”Oleh karena itu, tindakan masyarakat Wehea patut dicontoh warga lain,” kata Awang Faroek yang sebelumnya menjadi Bupati Kutai Timur.

Identitas

Ledjie Taq mengatakan, penghargaan terhadap warga jelas mengangkat kehormatan komunitas Wehea. Sebelumnya, amat jarang didengar tentang eksistensi komunitas ini dalam pelbagai bidang. ”Kami dianggap sebagai bagian dari subetnis tertentu, padahal kami berbeda,” katanya.

Ledjie Taq memberi contoh, sering kali Wehea diucapkan salah menjadi Wahau. Dengan demikian, seharusnya Sungai Wahau itu diucapkan menjadi Sungai Wehea.

Wehea juga luput dalam kajian kebudayaan karena dimasukkan dalam subetnis Dayak Modang. Karena itu, Ledjie Taq bisa memahami ketika sejumlah pemikir kebudayaan tidak mencantumkan Wehea sebagai satu di antara lebih dari 400 subetnis Dayak di Kalimantan.

”Penghargaan yang kami terima ini menegaskan pengakuan terhadap keberadaan kami, orang Wehea,” tutur Ledjie Taq.

Selain menjaga adat Wehea, Ledjie Taq juga aktif mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan Wehea secara tertulis. Dia berharap kebudayaan warganya tidak hilang meski ditelan waktu.


Data Diri

• Nama: Ledjie Taq

•Lahir: Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, 19 Februari 1953

• Pendidikan:
- Kursus Pendidikan Guru, 1984
- D-2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2005
- S-1 PGSD UT (sedang dijalani)

• Istri: Valensia Lenyie

•Anak:
- Yakobus Zamrie (Hat Hong Ha)
- Yuliana Wetuq
- Martina Leyun - Emiliani Dea

• Pekerjaan: Guru Sekolah Dasar, sejak 1984

• Aktivitas lain:
- Berladang
- Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing
- Penulis Kebudayaan Wehea

• Karya tulis:
1. Nemlen
2. Lom Plai
3. Sejarah Singkat Wehea
4. Eweangisasi Hutan Lindung Wehea
5. Tata Cara Penyambutan Secara Adat
6. Pokok-pokok Pikiran Peraturan Adat Pengelolaan Hutan Lindung Wehea
7. Lagu-lagu Daerah untuk Penyambutan Tamu

Sumber :
Kompas Cetak