Penulis
KOMPAS.com - Frekuensi mati lampu atau blackout jaringan listrik PLN di Pulau Jawa semakin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Pakar instalasi kelistrikan Helvin Herman Tirtadjaja mengungkapkan selain menghambat aktivitas, pemadaman listrik yang terjadi berulang kali ini juga dapat berdampak buruk terhadap sejumlah peralatan elektronik di rumah.
Banyak orang mengira perangkat elektronik rusak hanya disebabkan oleh terlalu seringnya listrik padam.
Padahal, menurut Helvin, faktor yang lebih berbahaya bukan sekadar jumlah pemadaman, melainkan kondisi ketika listrik mati secara tiba-tiba dan kembali menyala dengan gangguan tegangan.
Ketika listrik kembali mengalir setelah padam, dapat terjadi lonjakan tegangan yang memberikan beban besar pada komponen elektronik. Apalagi jika kondisi tersebut terjadi berkali-kali dalam waktu berdekatan.
Dalam standar kelistrikan internasional yang dikeluarkan oleh International Electrotechnical Commission (IEC), gangguan seperti ini dikenal dengan beberapa istilah, yaitu voltage dip, short interruption, dan transient overshoot.
Baca juga: Bahaya Keseringan Mati Lampu, Pakar: Bikin Elektronik Rusak
Voltage dip merupakan kondisi ketika tegangan listrik turun secara tiba-tiba. Sementara short interruption adalah gangguan berupa terputusnya pasokan listrik dalam waktu singkat.
Adapun transient overshoot adalah lonjakan tegangan sesaat yang dapat terjadi ketika listrik kembali menyala. Ketiga gangguan tersebut dapat membuat komponen elektronik bekerja di luar kondisi normal.
"Setiap mati–nyala (mati lampu) menyebabkan arus awal tinggi (inrush current), stress pada komponen, pemanasan mendadak," tutur Helvin saat dihubungi, Sabtu (20/6/2026).
Diungkapkan Helvin, ada beberapa perangkat elektronik yang paling rawan mengalami kerusakan akibat lampu padam, hal itu sangat bergantung pada beberapa faktor.
Tidak semua perangkat elektronik memiliki tingkat ketahanan yang sama terhadap gangguan listrik. Beberapa perangkat dengan rangkaian elektronik kompleks justru lebih sensitif.
"Tidak pasti Pak. Tergantung kondisi dan kualitas peralatan (elektronik)," ungkap Helvin.
Yang paling berbahaya bukan jumlah padamnya, tetapi listrik mati mendadak, menyala kembali dengan lonjakan tegangan, dan tegangan naik-turun berulang (flicker)," tambahnya.
Baca juga: Mengapa Rumah yang Tinggi Perlu Diberi Penangkal Petir?
Ia mencontohkan, salah satu perangkat elektronik yang cukup rawan mengalami kerusakan bila terjadi lonjakan tegangan dan naik turun arus listrik adalah TV LED dan OLED
Lonjakan tegangan yang terjadi secara tiba-tiba dapat mempercepat kerusakan komponen seperti kapasitor dan modul daya.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.