JAKARTA, KOMPAS.com - CEO PTI Architects Doddy Tjahjadi menuturkan, pandemi Covid-19 memaksa masyarakat melakukan pertemuan secara virtual.
Dengan demikian, bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bisa menjadi kenormalan baru.
Prediksi ini terjadi lantaran setelah pandemi, banyak perusahan diperkirakan menerapkan waktu kerja yang lebih fleksibel dengan sistem pembagian hari masuk ke kantor.
Kehadiran di kantor yang biasanya dilakukan setiap hari diprediksi akan berubah menjadi hanya 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah selama seminggu.
Baca juga: Gambaran Desain Kantor Masa Depan Saat dan Setelah Pandemi
Tentu saja kebiasaan baru ini akan mengubah lansekap bisnis perkantoran. Hampir seluruh pertemuan seperti rapat di kantor kini bisa digantikan dengan rapat virtual atau online meeting.
Tren ini akan menimbulkan kebiasaan baru yang membuat frekuensi pertemuan atau rapat secara fisik jauh berkurang.
Ilustrasi desain kantor pasca-pandemi"Karena pertemuan face to face akan jarang, demand ruang-ruang meeting untuk perusahaan-perusahaan besar harus dipertimbangkan lagi," ucap Doddy saat diskusi daring bertema A New Concept For A New Normal, Sabtu (11/7/2020).
Selain itu, tren baru tersebut juga bakal memengaruhi permintaan ruang perkantoran. Doddy mengatakan, terdapat perubahan terhadap permintaan ruang kantor.
Baca juga: New Normal di Kantor, Apa yang Harus Dilakukan Manajemen?
"Jadi ukuran kantor seandainya mereka shift genap ganjil, bisa mengecil menjadi 30-40 persen. Jadi akan ada perubahan terhada permintaan office space, jika ini berlanjut." tutur Doddy.
Akan tetapi, Doddy menganggap permintaan ruang-ruang pertemuan atau ruang rapat pada akhirnya tetap tidak dapat dihilangkan.
Ini karena manusia sebagai makhluk sosial, tetap membutuhkan pertemuan tatap muka.
"Jika ini berlanjut, demand ruang-ruang meeting dan convention untuk jangka panjang akan berkurang, walaupun tidak bisa dihilangkan karena face to face penting untuk manusia sebagai makhluk sosial," kata Doddy.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.