Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Pandemi, Permintaan Gedung Perkantoran Bakal Menyusut

Kompas.com, 13 Juli 2020, 15:00 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - CEO PTI Architects Doddy Tjahjadi menuturkan, pandemi Covid-19 memaksa masyarakat melakukan pertemuan secara virtual.

Dengan demikian, bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bisa menjadi kenormalan baru.

Prediksi ini terjadi lantaran setelah pandemi, banyak perusahan diperkirakan menerapkan waktu kerja yang lebih fleksibel dengan sistem pembagian hari masuk ke kantor.

Kehadiran di kantor yang biasanya dilakukan setiap hari diprediksi akan berubah menjadi hanya 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah selama seminggu.

Baca juga: Gambaran Desain Kantor Masa Depan Saat dan Setelah Pandemi

Tentu saja kebiasaan baru ini akan mengubah lansekap bisnis perkantoran. Hampir seluruh pertemuan seperti rapat di kantor kini bisa digantikan dengan rapat virtual atau online meeting.

Tren ini akan menimbulkan kebiasaan baru yang membuat frekuensi pertemuan atau rapat secara fisik jauh berkurang.

Ilustrasi desain kantor pasca-pandemiSHUTTERSTOCK Ilustrasi desain kantor pasca-pandemi
Menurut Doddy, akan banyak kekosongan yang terjadi di ruang-ruang rapat di kantor. Satu ruangan, menurut Doddy, bisa saja dipakai untuk satu atau dua orang saja saat webinar.

"Karena pertemuan face to face akan jarang, demand ruang-ruang meeting untuk perusahaan-perusahaan besar harus dipertimbangkan lagi," ucap Doddy saat diskusi daring bertema A New Concept For A New Normal, Sabtu (11/7/2020).

Selain itu, tren baru tersebut juga bakal memengaruhi permintaan ruang perkantoran. Doddy mengatakan, terdapat perubahan terhadap permintaan ruang kantor.

Baca juga: New Normal di Kantor, Apa yang Harus Dilakukan Manajemen?

"Jadi ukuran kantor seandainya mereka shift genap ganjil, bisa mengecil menjadi 30-40 persen. Jadi akan ada perubahan terhada permintaan office space, jika ini berlanjut." tutur Doddy.

Akan tetapi, Doddy menganggap permintaan ruang-ruang pertemuan atau ruang rapat pada akhirnya tetap tidak dapat dihilangkan.

Ini karena manusia sebagai makhluk sosial, tetap membutuhkan pertemuan tatap muka.

"Jika ini berlanjut, demand ruang-ruang meeting dan convention untuk jangka panjang akan berkurang, walaupun tidak bisa dihilangkan karena face to face penting untuk manusia sebagai makhluk sosial," kata Doddy.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau