JAKARTA, KOMPAS.com - Ekspatriat di Singapura meminta keringanan harga sewa karena penghasilan bulanan mereka dipangkas akibat perusahaannya terdampak Covid-19.
Agen properti ERA Realty Clarence Foo mengungkapkan tujuh kasus permohonan keringanan sewa dalam sebulan terakhir, dan empat permohonan di antaranya telah dikabulkan.
Salah satu permohonan keringanan sewa tersebut berasal dari seorang wanita Amerika yang mengirimkan pesan kepada Foo dan menjelaskan bahwa gajinya akan dipotong 20 persen pada 1 Mei hingga 31 Juli.
Dia menyewa apartemen satu kamar tidur di Tanjong Pagar dengan harga 2.400 dollar Singapura atau senilai Rp 25 juta per bulan.
Baca juga: Serapan Kondominium di Singapura Melonjak 72 Persen
Wanita Amerika tersebut kemudian memohon penurunan harga sewa sebesar 7 persen atau 250 dollar Singapura (Rp 2,6 juta) per bulan.
“Sekilas, itu tidak banyak. Tetapi pemangkasan gaji itu dilakukan lebih dari tiga bulan, Hal ini menjadi penghematan yang besar buatnya,” ujar Foo sebagaimana dikutip Kompas.com dari Businessmirror, Senin (11/5/2020).
Perekonomian Singapura tahun ini diprediksi akan semakin tertekan, seiring dengan kebijakan pemerintahnya memperpanjang masa lock down.
Dengan kondisi ini, akan ada banyak perusahaan yang memangkas biaya-biaya untuk mempersiapkan diri menghadapi hal terburuk.
Namun, meskipun pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan khusus seperti insentif dan relaksasi, tetapi sebagian besar kebijakan tersebut hanya ditargetkan untuk warga Singapura.
Di sisi lain, Menteri Tenaga Kerja Singapura Josephine Teo mengatakan, April lalu pemerintah telah memberikan 7 miliar dollar Singapura ke perusahan-perusahaan untuk membantu membayar gaji 1,9 juta para pekerjanya.
Agen real estat lain yang berurusan dengan permintaan pengurangan sewa ekspatriat di Singapura adalah Lester Chen.
Lester Chen mengatakan, seorang ekspatriat yang tinggal di apartemen Sentosa Cove telah diberikan potongan sewa sebesar 20 persen.
"Kami bersedia untuk menutup sebelah mata, karena setidaknya kami masih dapat penghasilan daripada tidak sama sekali," jelas Chen.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.