Urusan Pencakar Langit, Jakarta Keok dari Kuala Lumpur

Kompas.com - 16/01/2020, 18:51 WIB
Thamrin Nine Complex, Thamrin, Jakarta Pusat. dokumen Putragaya WahanaThamrin Nine Complex, Thamrin, Jakarta Pusat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah lebih dari tiga dekade negara-negara di dunia berkompetisi membangun gedung-gedung tinggi dengan ukuran lebih dari 200 meter.

Sebut saja Uni Arab Emirat (UAE), China, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Malaysia, dan Thailand.

Sepanjang tahun 2019 lalu, Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH) mencatat 126 gedung tinggi baru.

Sebanyak 26 di antaranya merupakan pencakar langit atau supertall dengan ketinggian melebihi 300 meter.

"China lagi-lagi mendominasi dengan menyelesaikan 57 gedung atau sekitar 45 persen dari total gedung tinggi baru," tulis CTBUH dalam laporannya tersebut.

Baca juga: Perang Sengit Pencakar Langit, UAE Ungguli Arab Saudi

Meski masih mendominasi, namun angka ini merupakan penurunan dari tahun sebelumnya. Ketika itu, China mampu menyelesaikan 92 bangunan atau sekitar 36 persen.

Secara keseluruhan, Asia (tidak termasuk Timur Tengah) berkontribusi 87 dari total 126 penyelesaian, dengan pangsa 69 persen atau turun dari sebelumnya 110 gedung (75,3 persen) dari total gedung pada 2018.

Sementara Amerika Serikat tercatat sebagai negara paling produktif kedua, dengan 14 penyelesaian gedung, atau 11 persen. Jumlahnya sama dengan total 2018, meskipun persentase yang diwakili lebih rendah.

Sedangkan Amerika Utara mewakili 20 penyelesaian, atau 15,9 persen. Angka ini juga lebih sedikit ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 16 gedung atau 10,8 persen.

Uni Arab Emirat (UAE) mengekor dengan sembilan penyelesaian, turun dari 10 pada 2018. Timur Tengah secara keseluruhan mencatat 11 penyelesaian, lebih sedikit ketimbang pencapaian total 13 gedung pada 2018.

Berturut-turut Malaysia dan India dengan tujuh gedung, serta Filipina lima gedung. Pada 2018, Malaysia juga mencatat angka yang sama, sementara India nihil dan Filipina satu gedung.

Untuk skala kota Shenzhen, sekali lagi menjadi jawara dunia, mengungguli rekornya sendiri untuk keempat kalinya berturut-turut, dengan 15 penyelesaian atau 11,9 persen dari total gedung secara global.

Prestasi ini melampaui semua negara dan kota lain. Kota paling produktif berikutnya adalah Dubai, dengan sembilan penyelesaian.

Bagaimana Indonesia dan Jakarta?

Baca juga: Jakarta Raih Honorable Mention Transportasi Berkelanjutan STA 2020

Dalam laporan CTBUH, Indonesia atau pun Jakarta hanya sanggup menyelesaikan dua gedung, masing-masing Millenium Centennial Center, dan World Capital Tower.

PT Permata Birama Sakti, pengembang Millenium Centennial Center, membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan gedung yang berlokasi di Jl Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, ini.

Millenium Centennial Center dirancang oleh Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart & Associates Inc dengan ketinggian 254 meter dan mencakup 54 lantai.

Sementara World Capital Tower yang berada di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, dimiliki oleh PT Pollux Properties Indonesia Tbk.

Aedas merancang gedung ini setinggi 244,3 meter yang mencakup 51 lantai.

Jakarta versus Kuala Lumpur

Dari data 2019, jelas Jakarta kalah jauh ketimbang kota serumpun terdekat, Kuala Lumpur,  yang sanggup menyelesaikan tujuh gedung.

Bahkan, satu di antaranya masuk kategori supertall  dengan ketinggian 445,1 meter dalam 95 lantai, yakni The Exchange 106.

Secara keseluruhan pun, untuk populasi gedung dengan ketinggian di atas 200 meter, Jakarta terpaut satu gedung dengan Kuala Lumpur yakni 42 berbanding 43.

Dari segi kategori ketinggian, Kuala Lumpur juga unggul dengan memiliki lima supertall yakni Petronas Twin Tower 1, Petronas Twin Tower 2, The Exchange 106, Four Seasons Place, dan Menara TM.

Sementara Jakarta belum memiliki satu pun supertall. Gedung tertinggi Gama Tower yang dimiliki Gama Land hanya menyentuh ketinggian 285,5 meter.

Demikian halnya untuk gedung tinggi yang sedang dalam tahap konstruksi. CTBUH mencatat Jakarta sedang membangun 12 proyek, 4 di antaranya supertall.

Keempat supertall tersebut adalah Thamrin Nine Tower 1, Fortune Tower, Indonesia One North Tower, dan Indonesia One South Tower.

Lima di antara 12 proyek tersebut ditargetkan selesai tahun 2020.

Sedangkan Kuala Lumpur melesat dengan 18 proyek.  Satu di antaranya merupakan megatall dengan tinggi 644 meter yang mencakup 118 lantai yakni Merdeka PNB 118.

Enam proyek lainnya masuk dalam kategori supertall, masing-masing adalah Coronation Square Tower 1, Fairmont Kuala Lumpur Tower 1, Oxley tower 1, IBN Bukit Bintang, M101 Skywheel, dan Kempinski Hotel & Residence.

Tiga di antara 12 proyek tersebut dijadwalkan selesai tahun ini.

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X