10 Resep agar Pengembang Properti Tak Gulung Tikar

Kompas.com - 18/12/2019, 15:24 WIB
Diskusi bertajuk Property Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (18/12/2019) Kompas.com/Rosiana HaryantiDiskusi bertajuk Property Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (18/12/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan zaman turut membawa perubahan, terutama di bisnis properti. Riset terakhir yang dikeluarkan McKinsey menyebutkan, industri real estat dan konstruksi rawan digantikan oleh mesin atau robot.

"Perusahaan properti harus mengadopsi property technology ( proptech). Kalau perusahaan properti mengadopsi teknologi, saya kira mereka tidak akan kalah dengan perusahaan financial technology (fintech)," ujar akademisi serta ahli teknologi informasi Marsudi Wahyu Kisworo dalam diskusi Property Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Baca juga: Perkuat PropTech, Cushman & Wakefield Resmi Menggandeng Fifth Wall

Menurut Marsudi, ke depannya, perusahaan harus mengadopsi proptech. Seperti diketahui, fintech saat ini mulai mendominasi dunia perbankan.

Menurut dia, jika sektor properti tidak bisa bekerja sama atau menerapkan teknologi dalam bisnisnya, maka perusahaan bisa saja kalah dalam persaingan dengan para pelaku teknologi.

"Jangan sampai perusahaan properti digusur oleh proptech. Contohnya Airbnb tidak punya aset, tapi jadi perusahaan properti besar di dunia," kata Marsudi.

Selain itu, Ketua Asosiasi Real Estate Broler Indonesia (Arebi) Lukas Bong mengatakan agar para pelaku bisnis properti turut merangkul pemain proptech.

Dia menyebutkan, terdapat lima hal yang bisa menjadi pendorong tren teknologi di bidang properti, antara lain digitalisasi, urbanisasi, pembangunan berkelanjutan atau suitainable devlopment, dan perubahan demografi.

Untuk itu, Marsudi menjabarkan, ada 10 macam teknologi yang bisa diadopsi, antara lain big data atau analytic.

Kemudian,  machine learning atau artificial inteligent yang digunakan sebagai alat pengelolaan manajemen properti.

Lalu teknologi sensor atau Internet of Things ( IoT) untuk smart building. Ada pula geospacial information system hingga blockchain yang berguna sertifikasi di bidang properti.

"Punya manfaat lain misal untuk smart contract yang tidak perlu menggunakan kontrak kertas, tapi digital," kata Marsudi.

Selanjutnya, terdapat indoor mapping dan building information modelling. Teknologi tersebut berguna untuk memetakan bangunan menggunakan robot atau alat khusus.

Baca juga: Dukung Industri PropTech, UnionSpace Resmikan Cabang Baru

Teknologi lain yang dapat diterapkan adalah drone yang berfungsi memetakan suatu wilayah dengan cakupan sangat luas. Saat ini, menurut Marsudi, drone telah digunakan di berbagai pembangunan proyek.

Adapun jenis teknologi lainnya ialah virtual reality guna memperlihatkan gambaran properti secara langsung tanpa harus mendatangi lokasinya.

"Bisa melihat lingkungan properti tanpa secara fisik pergi ke sana," tutur dia.

Terakhir, teknologi pencetakan 3 dimensi atau 3D Printing bisa menjadi salah satu pilihan untuk diterapkan ke proyek-proyek pembangunan.

Teknologi tersebut dapat mempermudah pengembang untuk membangun rumah. Menurut dia, para kontraktor hanya perlu merancang desain dan mencetaknya dengan alat khusus.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X