Ternyata, Developer Syariah Penipu Warga Tak Terdaftar di Kementerian PUPR

Kompas.com - 03/12/2019, 17:30 WIB
Jejak pembangunan perumahan syariah Pesona Darussalam Residence hanya tersisa siring (selokan) yang dibangun setelah land clearing pada 2014 lalu. Perumahan syariah yang dikembangkan PT ARM Citra Mulia ini diduga penipuan berkedok perumahan syariah. KOMPAS.com/TRI PURNA JAYAJejak pembangunan perumahan syariah Pesona Darussalam Residence hanya tersisa siring (selokan) yang dibangun setelah land clearing pada 2014 lalu. Perumahan syariah yang dikembangkan PT ARM Citra Mulia ini diduga penipuan berkedok perumahan syariah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus penipuan perumahan kembali terjadi. Kali ini sebanyak 270 warga menjadi korban penipuan berkedok perumahan syariah oleh pengembang PT ARM Citra Mulia.

Pelaku yakni Direkur Utama PT ARM Citra Aria Duman dan tiga orang lainnya menarik uang dari para korban untuk membayar pembebasan tanah.

Perumahan syariah itu rencananya akan dibangun di lima lokasi yaitu, dua perumahan di Bogor, satu di Bekasi, satu di Bandung, dan satu perumahan di Lampung.

Namun pada Desember 2015, proses pembangunan terhenti. Sang empunya proyek juga tidak pernah menampakkan batang hidungnya di lokasi.

Selain itu, lahan yang sedianya akan digunakan sebagai lokasi pembangunan perumahan juga tidak pernah dibeli.

Baca juga: Properti Syariah Bisa Memicu Eksklusivitas

Kompas.com kemudian mengecek nama developer tersebut di Sistem Registrasi Pengembang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (SIRENG-PUPR). Hasilnya, nama PT ARM Citra tidak terdaftar di sistem tersebut.

Menanggapi hal tersebut Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida mengungkapkan, hingga saat ini dirinya belum pernah menemukan pengembang properti syariah di organisasi yang ia pimpin.

"(Pengembang) syariah ini sampai sekarang saya belum menemukan," ucap Totok kepada Kompas.com, Selasa (3/12/2019).

Totok juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih perumahan, dan mengecek kredibilitas serta rekam jejak developer.

Menurutnya, sebelum memutuskan untuk membeli rumah, para konsumen bisa mengecek perizinan pengembang. Selain itu, mereka juga bisa memeriksa kepemelikan lahan yang akan dibangun.

Selama ini, menurut Totok, banyak lahan pengembang syariah yang berada di area hijau atau persawahan.

"Berdasarkan pengalaman selama ini tanahnya itu peruntukannya hijau untuk persawahan, padahal orang sudah ngangsur semua, dia sudah belikan untuk tanah," ucap Totok.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X