Arvilla Delitriana Ungkap Sulitnya Buat "Long Span" LRT

Kompas.com - 28/11/2019, 16:53 WIB
Sosok Arvilla Delitriana, pembuat Jembatan Lengkung (Long Span) LRT ketika mengisi acara ?Workshop Jembatan Lengkung LRT? di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa, (27/11/2019). Kompas.com/SuhaielaSosok Arvilla Delitriana, pembuat Jembatan Lengkung (Long Span) LRT ketika mengisi acara ?Workshop Jembatan Lengkung LRT? di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa, (27/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Arvilla Delitriana, sosok yang tengah popular dibicarakan publik ini mengungkapkan, bahwa tak mudah mendesain Jembatan Lengkung (Long Span) LRT Jabodebek.

Dina, sapaan akrabnya, mengaku mengalami kendala dalam proses pemasangan pondasi. Awalnya, dia belum paham dan terus mengkaji ulang dengan menggunakan metode-metode yang informasinya didapatkan dari kontraktor Jepang.

Termasuk dua flyover Kuningan yang memiliki dua pier  dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Kondisi ini membuat dimensi ide menjadi sangat terbatas, padahal untuk mengerjakan sebuah proyek, Dina membutuhkan keleluasaan dimensi.

Tak hanya itu, karena terdapat dua flyover aktif, proses pengecoran Jembatan Lengkung LRT bakal mengganggu aktivitas lalu lintas di bawahnya.

Baca juga: Sah, Long Span Jembatan LRT Jabodebek Bersertifikat

Karena itu, dia memerlukan alat yang tidak biasa, berteknologi tinggi, dan tentu saja, tak murah.

Alhasil, teknologi baru pun diterapkan dalam pembuatan Long Span LRT, tidak seperti teknologi biasa yang dibuat pada jembatan lain.

Teknologi baru tersebut memungkinkan pemasangan pier  berdiameter 8 meter. Dengan demikian, pier bagian tengah bisa dihilangkan.

Setelah pier tersebut dihilangkan, barulah tercipta konsep jembatan buatan Dina yaitu Jembatan Lengkung LRT berdiameter 148 meter dengan radius 115 meter.

Walau telah mengkaji berulang-ulang dan mendapatkan konsep yang tepat untuk Jembatan Lengkung LRT, nyatanya Systra menentang konsep jembatan buatan Dina.

Hal ini dikarenakan model desain jembatan lengkung LRT buatan Dina belum pernah ada sebelumnya karena memiliki bentang terpanjang serta radius jembatan yang sangat kecil.

Systra sendiri merupakan konsultan teknik asal Perancis yang bekerja untuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Akhirnya, karena tidak adanya peraturan yang berlaku LRT di Indonesia, Kementerian Perhubungan mengizinkan menggunakan konsep actual axial load.

Dengan begitu, desain tidak mengacu lagi pada peraturan heavy train yang actual axial load-nya berat tetapi mengacu kepada aturan dari vendor LRT.

Sebelumnya, Jembatan Lengkung LRT buatan Dina ini meraih dua rekor muri. Pertama, sebagai jembatan kereta box beton lengkung dengan bentang terpanjang dengan radius terkecil serta rekor pengujian axial static loading test pada pondasi bored pile dengan beban terbesar.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X