Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Arvilla Delitriana Ungkap Sulitnya Buat "Long Span" LRT

JAKARTA, KOMPAS.com - Arvilla Delitriana, sosok yang tengah popular dibicarakan publik ini mengungkapkan, bahwa tak mudah mendesain Jembatan Lengkung (Long Span) LRT Jabodebek.

Dina, sapaan akrabnya, mengaku mengalami kendala dalam proses pemasangan pondasi. Awalnya, dia belum paham dan terus mengkaji ulang dengan menggunakan metode-metode yang informasinya didapatkan dari kontraktor Jepang.

Termasuk dua flyover Kuningan yang memiliki dua pier  dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Kondisi ini membuat dimensi ide menjadi sangat terbatas, padahal untuk mengerjakan sebuah proyek, Dina membutuhkan keleluasaan dimensi.

Tak hanya itu, karena terdapat dua flyover aktif, proses pengecoran Jembatan Lengkung LRT bakal mengganggu aktivitas lalu lintas di bawahnya.

Karena itu, dia memerlukan alat yang tidak biasa, berteknologi tinggi, dan tentu saja, tak murah.

Alhasil, teknologi baru pun diterapkan dalam pembuatan Long Span LRT, tidak seperti teknologi biasa yang dibuat pada jembatan lain.

Teknologi baru tersebut memungkinkan pemasangan pier  berdiameter 8 meter. Dengan demikian, pier bagian tengah bisa dihilangkan.

Setelah pier tersebut dihilangkan, barulah tercipta konsep jembatan buatan Dina yaitu Jembatan Lengkung LRT berdiameter 148 meter dengan radius 115 meter.

Walau telah mengkaji berulang-ulang dan mendapatkan konsep yang tepat untuk Jembatan Lengkung LRT, nyatanya Systra menentang konsep jembatan buatan Dina.

Hal ini dikarenakan model desain jembatan lengkung LRT buatan Dina belum pernah ada sebelumnya karena memiliki bentang terpanjang serta radius jembatan yang sangat kecil.

Systra sendiri merupakan konsultan teknik asal Perancis yang bekerja untuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Akhirnya, karena tidak adanya peraturan yang berlaku LRT di Indonesia, Kementerian Perhubungan mengizinkan menggunakan konsep actual axial load.

Dengan begitu, desain tidak mengacu lagi pada peraturan heavy train yang actual axial load-nya berat tetapi mengacu kepada aturan dari vendor LRT.

Sebelumnya, Jembatan Lengkung LRT buatan Dina ini meraih dua rekor muri. Pertama, sebagai jembatan kereta box beton lengkung dengan bentang terpanjang dengan radius terkecil serta rekor pengujian axial static loading test pada pondasi bored pile dengan beban terbesar.

https://properti.kompas.com/read/2019/11/28/165323021/arvilla-delitriana-ungkap-sulitnya-buat-long-span-lrt

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar