MRT Jakarta Buka Peluang Lepas Saham ke Publik

Kompas.com - 27/11/2019, 14:48 WIB
Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terparkir di Depo MRTJ, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2018). Direktur Utama MRTJ  William Sabandar menyatakan, hingga 25 April 2018 proses pembangunan MRT sudah mencapai 93,45 persen. Saat diskusi dengan media dia Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. WARTA KOTA/ALEX SUBANRangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terparkir di Depo MRTJ, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2018). Direktur Utama MRTJ William Sabandar menyatakan, hingga 25 April 2018 proses pembangunan MRT sudah mencapai 93,45 persen. Saat diskusi dengan media dia Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

"Karena itu untuk opsi pendanaan kedua ini kami butuh peraturan pemerintah," imbuh William.

Untuk diketahui, hingga akhir 2019, PT MRT Jakarta telah mencetak pendapatan sekitar Rp 1 triliun atau tepatnya Rp 940 miliar. Kontributor terbesar berasal dari pendapatan subsidi senilai Rp 560 miliar.

Sementara pendapatan non tiket atau non-farebox Rp 225 miliar. Dari jumlah ini, mayoritas berasal dari periklanan senilai Rp 123,7 miliar atau 55 persen.

Disusul naming rights 33 persen sejumlah Rp 74,25 miliar, kemudian telekomunikasi 2 persen, dan ritel satu persen.

Sisa 9 persen lagi merupakan pendapatan lain-lain yang diperoleh dari pendapatan suku bunga, dan selisih kurs sejumlah Rp 40 miliar.

Baca juga: Fase II MRT Jakarta Bunderan HI-Ancol Barat Butuh Rp 22,5 Triliun

Adapun pendapatan tiket (farebox) hanya sebesar Rp 180 miliar dari hampir 20 juta penumpang yang dihitung sejak 24 Maret hingga 26 November 2019 atau 93.165 rata-rata penumpang per hari 

Dengan revenue total sebanyak itu, laba yang mampu dicetak senilai Rp 60 miliar hingga Rp 70 miliar. 

"Namun seluruh angka ini belum diaudit. Secara resmi audit dilakukan pada Maret 2020 mendatang," sebut William.

Melihat tren penumpang yang terus meningkat hingga mendekati angka baseline 100.000 penumpang per hari, serta tingginya minat swasta untuk berpartisipasi, MRT Jakarta menargetkan peningkatan laba operasional sebesar Rp 200 miliar hingga Rp 250 miliar dari sekitar Rp 1,4 triliun pendapatan pada 2020.

Laba ini diproyeksikan bakal terus melonjak hingga berada di kisaran Rp 300 miliar-Rp 350 miliar pada 2022 dengan asumsi jumlah pengeluaran sama dengan tahun perdana operasi, supaya bisa memperhitungkan, berapa jumlah subsidi yang bisa dikurangi atau diterima, brapa subsidi yang diterima.

"Subsidi sebaiknya tidak dihilangkan. Cukup dikurangi, karena willingness to pay pengguna MRT telah teredukasi dengan baik, mereka mau membayar tarif yang ditetapkan," cetus William.

 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X