Pesan Milenial untuk Para Pengembang Rumah

Kompas.com - 21/11/2019, 12:38 WIB
Dewi Damayanti dari Permata Bank, Prita Ghozie selaku Financial Planner dari Zap Finance, Dimas Harry Priawan selaku CEO Dekoruma, dan Rico Tampenawas selaku Direktur Utama Eazy Property ketika menjadi pembicara untuk diskusi panel di acara Real Estat Indonesia (REI) di Hotel InterContinental, Jakarta, Rabu (20/11/2019). Kompas.com/SuhaielaDewi Damayanti dari Permata Bank, Prita Ghozie selaku Financial Planner dari Zap Finance, Dimas Harry Priawan selaku CEO Dekoruma, dan Rico Tampenawas selaku Direktur Utama Eazy Property ketika menjadi pembicara untuk diskusi panel di acara Real Estat Indonesia (REI) di Hotel InterContinental, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pada diskusi panel yang diadakan Real Estat Indonesia (REI), dengan tajuk “ Milenial Bicara Properti” di Hotel InterContinental Jakarta, Rabu (21/11/2019), empat pembicara milenial mengungkapkan pesan kepada para pengembang perumahan.

Mereka menginginkan para pengembang untuk menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan keinginan para milenial jika ingin menggarap pasar generasi ini.

Keempat pembicara tersebut adalah Financial Planner Zap Finance Prita Ghozie, Direktur Utama Eazy Property Rico Tampenawas, CEO Dekoruma Dimas Harry Priawan, dan Dewi Damayanti dari Permata Bank.

Penyebab milenial tidak mau membeli atau berinvestasi properti karena memilih tujuan keuangan yang berbeda.

Baca juga: Alasan Generasi Milenial Tunda Beli Rumah

Hadirnya teknologi digital juga membuat para milenial merasa menyewa rumah merupakan sesuatu yang sudah lazim.

“Karena kita dimudahkan dengan teknologi digital membuat kita merasa berbagi apapun (termasuk properti) sudah tidak menjadi masalah,” ungkap Prita Ghozie.

Menurut Dimas, dari 70 persen milenial yang membeli rumah, 50 persen di antaranya dibelikan oleh orang tua, dan 20 persen dibeli dari hasil keringat sendiri.

Mengapa milenial yang beli rumah dari hasil keringat sendiri lebih kecil? Ini karena pendapatan mereka masih terhitung kecil, dan untuk dapat membeli rumah minimal gaji harus mencapai Rp 7 juta per bulan.

Penghasilan sebesar ini bisa dikatakan aman untuk membayar cicilan KPR/KPA sebesar Rp 1juta hingga Rp 3 juta per bulan.

"Jadi, pengembang dan perbankan harus memberikan kemudahan caya membayar rumah/ apartemen yang milenial butuhkan," lanjut Dimas.

Selain itu, para pengembang diharapkan untuk membuat rumah yang Instagramable, karena banyak kaum milenial yang menyukai hal tersebut.

Selain itu, para pengembang dapat memanfaatkan platform digital, seperti Instagram dan Youtube untuk memasarkan produknya, baik dari segi fasilitas maupun kemudahan akses dan lokasi yang dapat dijangkau.

Bagi para orangtua, perlu untuk memberikan pemahaman agar memiliki rumah atau instrumen investasi properti lainnya merupakan sesuatu hal yang penting untuk masa depan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X