Alasan Generasi Milenial Tunda Beli Rumah

Kompas.com - 21/11/2019, 06:00 WIB
Margareta Astaman selaku penulis dan blogger, Toerangga dari Adhouse Clarion, Nikita Willy publik figur, dan Yuswohady penulis Millenials Kill Everything ketika mengisi diskusi panel di InterContinental Hotel, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2019). Kompas.com/SuhaielaMargareta Astaman selaku penulis dan blogger, Toerangga dari Adhouse Clarion, Nikita Willy publik figur, dan Yuswohady penulis Millenials Kill Everything ketika mengisi diskusi panel di InterContinental Hotel, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com –  Tidak seperti generasi baby boomers yang memandang aset properti merupakan lambang kesuksesan, generasi milenial justru lebih memilih pelesiran karena menyangkut pertambahan pengalaman hidup.

Perbedaan preferensi ini memang diametral. Traveling atau pelesiran bagi milenial adalah sarana mengaktualisasikan diri, dan lebih penting dari lainnya.

Itulah mengapa, para milenial usia 15 tahun hingga 30 tahun yang jumlahnya mencapai 35 persen dari total populasi Indonesia memilih menunda beli properti.

Seperti alasan yang dikemukakan Nikita Willy. Dia mengaku masih ingin mencari kebahagiaan dan pengalaman melalui traveling.

Baca juga: Lima Tahun Lagi, Generasi Milenial Terancam Tidak Bisa Membeli Rumah

“Karena, terkadang saya berpikir dari pagi syuting tidak melakukan pelesiran ke berbagai negara, nantinya ketika usia saya sudah tua, saya sudah tidak akan kuat (pelesiran),” ucap Nikita sebagai pembicara dalam diskusi panel " Milenial Bicara Properti" di InterContinental Hotel, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2019).

Sementara Toerangga dari Adhouse Clarion mengatakan, milenial sejatinya ingin membeli properti, tetapi belum bisa terealisasi karena pendapatan masih kecil.

“Milenial itu masih ingin punya rumah. Mereka sendiri mau datang (pameran properti) karena mencari rumah dan lokasi sesuai keinginan, tapi belum mampu untuk membeli (properti),” terang Toerangga.

Milenial juga merupakan generasi yang paling peka terhadap dinamika lingkungan. Hanya saja, ketika berbicara masalah properti, milenial untuk saat ini memilih untuk tidak memiliki aset. Artinya, milenial masih ingin menyewa rumah. Belum ada keinginan untuk memilikinya.

Fenomena ini seharusnya disikapi oleh para pengembang dengan pendekatan berbeda, dan strategi khusus untuk meyakinkan para milenial agar ingin memiliki rumah.

Seperti melalui pendekatan emosional dengan mengatakan bahwa rumah merupakan salah satu kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh semua orang.

Selain itu, penerapan sistem pembayaran yang milenial friendly, seperti kredit dengan jangka waktu hingga 25 tahun lamanya, serta suku bunga murah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X