Penelitian Konstruksi Sarang Laba-laba Bakal Dibawa ke Perancis

Kompas.com - 13/08/2019, 12:43 WIB
Konstruksi sarang laba-laba telah teruji di daerah-daerah rawan gempa. Konstruksi yang hak patennya dipegang oleh PT Katama Suryabumi ini sudah banyak diaplikasikan di Provinsi NAD, Sumatera Barat, dan Bengkulu.Dok Katama Suryabumi/KSLL Konstruksi sarang laba-laba telah teruji di daerah-daerah rawan gempa. Konstruksi yang hak patennya dipegang oleh PT Katama Suryabumi ini sudah banyak diaplikasikan di Provinsi NAD, Sumatera Barat, dan Bengkulu.
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Konstruksi sarang laba-laba perlu diadopsi untuk fondasi sejumlah bangunan mengingat konstruksi sarang laba-laba dikenal sebagai fondasi tahan gempa, selain juga ramah lingkungan.

Wakil Direktur Utama PT Katama, Charmeida Tjokrosuwarno, di Jakarta, Selasa (13/8/2019), mengatakan hal itu terkait paparan keunggulan teknologi di ajang temu ilmiah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Sanur Bali pekan lalu.

Menutu Charmeida, konstruksi laba-laba sudah banyak digunakan merehabilitasi bangunan sekolah, rumah sakit, tempat ibadah karena alat yang dipergunakan tidak mengganggu penghuni dan lingkungan sekitarnya.

"Jangan sampai upaya merehabilitasi itu mengganggu lingkungan sekitar, apalagi banyak dari sekolah yang lokasinya masuk di permukiman dengan kondisi jalannya tidak terlalu luas," ujar Charmeida.

Charmeida mengatakan konstruksi sarang laba-laba merupakan karya anak bangsa yang banyak dipakai perguruan tinggi di daerah-daerah rawan gempa seperti Aceh, Padang. Terakhir, konstruksi ini digunakan untuk pengembangan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Serang.

"Saat terjadi gempa di Aceh, Padang, Lombok, dan Palu ternyata banyak gedung dengan konstruksi ini masih aman berdiri sampai sekarang," tambah Charmeida.

Charmeida mengingatkan bahwa masyarakat harus menyadari bahwa sebagian besar wilayah mereka berada di atas ring of fire atau cincin api yang sewaktu-waktu rawan gempa. Hadirnya bangunan tahan gempa akan memberikan perlindungan terhadap aset juga penghuni di dalamnya.

Pada forum ilmiah di Bali pekan lalu itu Profesor Jean Louis Batoz dari Universite de Technologie de Compiegne (UTC) Perancis tertarik dengan konstruksi sarang laba-laba ini. Profesor Batoz merupakan ahli di bidang struktur mekanik sehingga mengetahui betul konstruksi bangunan tahan gempa.

Batoz, yang kebetulan berkunjung ke Indonesia untuk memenuhi undangan sebagai pembicara di Bali, juga menyatakan dukungannya terhadap riset mengenai fondasi sarang laba-laba.

"Saya sudah minta Soelarso Soelarso (pengajar Teknik Sipil Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa) untuk mengumpulkan data mengenai konstruksi ini untuk bisa dibuatkan simulasinya di laboratorium kami di Perancis," kata Batoz.

Rencananya, Batoz juga ingin melakukan perbandingan dengan konsruksi tahan gempa lainnya untuk melihat kekuatan dari produk karya anak bangsa ini.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X