Moda Transportasi Menentukan Kelas Properti

Kompas.com - 06/08/2019, 07:00 WIB
Unit pamer Branz Simatupang. Foto diambil Senin (10/7/2017). Unit pamer Branz Simatupang. Foto diambil Senin (10/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Moda transportasi menentukan kelas properti. Tak percaya? Coba amati harga properti, terutama apartemen, di sepanjang jalur yang dilintasi tiga moda transportasi berbasis rel atau sering diklaim sebagai pengembangan berkonsep Transit Oriented Development (TOD).

Ketiga moda tersebut adalah Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, dan Kereta Rel Listrik ( KRL) Commuter Line Jabodetabek.

Akan tampak perbedaan yang sangat mencolok, untuk tidak dikatakan njomplang.

Dari catatan Kompas.com, apartemen yang dilintasi atau dekat dengan stasiun MRT, dibanderol dengan harga paling tinggi dibanding properti sejenis dengan akses LRT atau KRL.

Hunian-hunian yang menempati area di kawasan Jakarta Selatan yakni Lebak Bulus, Fatmawati, dan Senayan, serta Jakarta Pusat yakni Sudirman, dan Thamrin yang merupakan koridor MRT fase pertama, dapat dikategorikan kelas menengah ke atas dengan harga mulai dari Rp 30 juta per meter persegi.

Baca juga: Ini Lima Apartemen Mewah Termahal di Jakarta

Di sini terdapat SQ Quarter keluaran PT Intiland Development Tbk, Arumaya rintisan Astra Property, dan Sun and Moon yang dibangun Tokyo Tatemono, sekadar menyebut contoh apartemen yang masih dalam proses pembangunan.

Stiker line antrean pintu masuk MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI yang sudah mulai rusak, Rabu (17/4/2019)KOMPAS.com/Ryana Aryadita Stiker line antrean pintu masuk MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI yang sudah mulai rusak, Rabu (17/4/2019)
Kemudian apartemen eksisting macam Branz Simatupang yang dikembangkan PT Tokyuland, Cityloft Sudirman punya Agung Sedayu Group, atau Senayan Residence.

Bahkan, di jalur MRT pula terdapat apartemen mewah termahal se-Indonesia yakni Keraton at The Plaza yang menurut riset Leads Property Indonesia saat ini harganya mencapai Rp 150 juta per meter persegi.

Apartemen yang dibangun PT Plaza Indonesia Realty Tbk ini hanya sepelemparan batu dari Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Baca juga: Marmer Italia, Kloset Jerman, Ini Spesifikasi Apartemen Mewah Jakarta

Senior Manager Research and Consultancy Leads Property Indonesia Martin Samuel Hutapea membenarkan klasifikasi ini.

"Proyek-proyek yang berbasis TOD MRT tersebut memang ditujukan untuk kelas menengah atas," kata Martin kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Jalur MRT, kata Martin, potensial dikembangkan hunian menengah-atas karena lokasi Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat lebih premium dibandingkan lokasi di sekitar jalur LRT yang sebagian besar berada di Jakarta Timur, Bekasi dan Bogor.

Dia memprediksi, dalam lima tahun ke depan, memiliki hunian di sekitar stasiun MRT akan menjadi tren menarik.

Sinergi yang dilakukan ACP dengan BUMN dan anak usaha BUMN lainnya adalah KSO dengan PT Adhi Persada Properti untuk mengembangkan kawasan LRT City di sisi stasiun LRT Bekasi Timur, yaitu Eastern Green dan Green Avenue. Dok ACP Sinergi yang dilakukan ACP dengan BUMN dan anak usaha BUMN lainnya adalah KSO dengan PT Adhi Persada Properti untuk mengembangkan kawasan LRT City di sisi stasiun LRT Bekasi Timur, yaitu Eastern Green dan Green Avenue.
Sementara hunian vertikal di sepanjang jalur LRT Jabodebek, masuk dalam klasifikasi kelas menengah yang dibanderol dengan harga serentang Rp 16 juta hingga Rp 30 juta per meter persegi.

Sebut saja LRT City Green Avenue Bekasi yang merupakan garapan PT Adhi Commuter Properti (ACP). Apartemen yang baru saja dimulai konstruksinya ini dipatok seharga Rp 16 juta per meter persegi.

Kemudian Signature Park Grande yang merupakan portofolio Pikko Land di koridor MT Haryono. Sekarang, apartemen yang hanya selangkah dari LRT Cawang ini ditaksir seharga Rp 30 juta per meter persegi.

Baca juga: Fresh Graduate Bergaji Rp 8 Juta Bisa Beli Apartemen Tersambung Kereta

"Dalam dua tahun ke depan, seiring beroperasinya LRT Jabodebek, pembeli dengan budget terbatas, akan memilih properti terintegrasi stasiun LRT," imbuh Martin.

Adapun rumah-rumah jangkung yang berlokasi terintegrasi, dilintasi, atau dekat dengan stasiun KRL dikategorikan kelas bawah.

Perumnas merupakan pengembang yang saat ini "merajai" pembangunan apartemen terintegrasi Stasiun KRL. 

Tiga proyek tengah mereka kembangkan dengan merek dagang Transit Oriented Development (TOD) Pondok Cina, TOD Margonda, dan TOD Tanjung Barat.

Harganya serentang Rp 12 juta per meter persegi hingga Rp 15 juta per meter persegi atau sekitar Rp 300 juta hingga Rp 400 juta untuk unit termurah.

"Apartemen kami cocok dan sangat bisa diakses generasi milenial dengan pendapatan Rp 8 juta per bulan. Hal ini karena cicilan per bulannya tak lebih dari Rp 3 juta per bulan," kata Direktur Pemasaran Perumnas Anna Kunti Pratiwi.

 



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X