Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/07/2019, 10:01 WIB

SAMOSIR, KOMPAS.com - Yori Antar ditunjuk sebagai perancang pengembangan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) berskala internasional. 

Menurut dia, pengembangan Danau Toba tidak boleh meniru kawasan wisata di negara lain yang penuh dengan aspek modernitas. Meski demikian, bukan berarti pengembangan ini akan meniadakan aspek tersebut.

"Jangan sampai Toba ini berubah modern seperti Batam, (seperti) Singapura. Enggak ada karakteristiknya," ungkap Yori menjawab Kompas.com, Minggu (28/7/2019) malam.

"Para arsitek ini akan mengembangkan bagaimana kawasan wisata ini ke depan bisa futuristik, bisa modern, tetapi berangkat dari kelokalan. Jadi pembangunannya kita harus hati-hati," imbuh dia. 

Baca juga: Yori Antar, Arsitek di Balik Wajah Baru Danau Toba

Selama ini, ia menuturkan, Danau Toba dikenal memiliki sejarah sebagai kawasan kaldera yang terbentuk dari letusan gunung pada jaman purba.

Peristiwa tersebut tak hanya membentuk karakter alam yang khas, tetapi juga masyarakat dan budayanya.

"Masyarakat senang dengan karakter bangunan yang monumental. Makam saja sudah besar-besar. Terus kalau lihat karakter (ukiran rumah) Batak yang gorga itu, tiga warna merah, putih dan hitam," terang Yori.

Mengembangkan Danau Toba, sebut dia, bukan tanpa tantangan. Seperti di kawasan Parapat, Kabupaten Simalungun.

Baca juga: Tahun 2020, Pemerintah Kucurkan Rp 2,4 Triliun untuk Danau Toba

Meski memiliki latar belakang pemandangan alam yang indah, namun kawasan pemukiman serta bangunan yang ada di wilayah ini cenderung semrawut.

"Kotanya begitu sesak, sempit, terpotong-potong. Kita tidak merasa ada ruang yang besar. Tantangannya tentunya bagaimana bisa mengenerator turis, bagaimana bisa membuat budayanya maju dan bisa dibawa ke masa depan," sambung Yori.

Salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu dengan menambah ruang terbuka yang cukup luas, sehingga dapat dimanfaatkan wisatawan dan masyarakat untuk berinteraksi sembari menikmati indahnya pemandangan alam. 

"Kita melihatnya harus open space. Karena di sini ada empat dermaga besar, itu akan menjadi ruang publik," tuntasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+