Pasar Perumahan Jadebotabek Anjlok

Kompas.com - 22/07/2019, 19:02 WIB
Ilustrasi rumah Wentao LiIlustrasi rumah

JAKARTA, KOMPAS.com - Semester I-2019 merupakan masa-masa sangat menantang bagi pasar perumahan Jakarta-Depok-Bogor-Tangerang-Bekasi ( Jadebotabek), seiring Pemilihan Presiden pada April lalu.

Seluruh indikator menunjukkan penurunan signifikan yang direfleksikan ke dalam tingkap serapan bulanandalam unit dan juga nilai.

Selain itu, rata-rata unit rumah yang ditransaksikan juga merosot serentang 3,4 unit hingga 22,9 unit per bulan per perumahan.

"Padahal semester sebelumnya, transaksi bisa mencapai maksimal rata-rata 26,3 unit," ungkap Director Research Cushman and Wakefield Indonesia Arief Raharjo kepada Kompas.com, Senin (22/7/2019).

Baca juga: Transaksi Rumah di Jadebotabek Tercatat Rp 10,9 Miliar Per Bulan

Nilai transaksi juga ikut anjlok 11,9 persen mendekati Rp 33,7 miliar per perumahan per bulan dibandingkan Semester II-2018 senilai Rp 38,2 miliar per perumahan per bulan.

Tangerang tertinggi

Cushman and Wakefield mencatat, kendati transaksi drop 4,3 unit dibanding semester sebelumnya, namun Tangerang tetap tampil sebagai kawasan dengan performa paling baik.

Tingkat serapan per bulannya mencapai 27,7 unit per perumahan dengan nilai transaksi rata-rata menyentuh angka Rp 51,7 miliar per bulan.

Menyusul tempat kedua Bekasi yang jeblok 11,9 unit menjadi hanya 4,3 unit per bulan dengan nilai transaksi Rp 21,3 miliar per bulan.

Sementara Jakarta dan Bogor masih beruntung. Kedua kawasan ini tidak terlalu "malang" nasibnya, dengan mencatat pertumbuhan tipis masing-masing 3,5 unit menjadi 11,8 unit dan 2,2 unit menjadi 22,8 unit per bulan.

Baca juga: Apartemen Rp 43,4 Miliar Dibayar Kontan, Enggak Pake Nyicil

Adapun rata-rata nilai transaksi tercatat sebesar Rp 31,3 miliar per bulan untuk Jakarta, dan Rp 14,2 miliar per bulan untuk Bogor.

"Secara keseluruhan tingkat penjualan (sales rate) Semester I-2019 tercatat 94,05 persen, tumbuh tipis 0,28 persen dibanding Semester II-2018." sebut Arief.

Arief menuturkan, transaksi perumahan di kawasan Jadebotabek didominasi rumah segmen menengah seharga Rp 1 miliar hingga Rp 1,7 miliar dengan porsi 36,5 persen dari total transaksi.

Diikuti rumah segmen menengah-bawah seharga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar dengan porsi 27,8 persen.

Dari sisi area, Bekasi dikontribusi oleh rumah segmen menengah dengan 50 persen dari total transaksi. Sementara Tangerang kontribusi terbesar dari rumah segmen menengah bawah sebanyak 35,6 persen dari total transaksi. 

End-user mendominasi

Pembeli dengan motif pengguna akhir atau end user masih mendominasi transaksi perumahan dengan porsi besar 75 persen. 

Baca juga: Marmer Italia, Kloset Jerman, Ini Spesifikasi Apartemen Mewah Jakarta

Mereka membeli hunian dengan harga serentang Rp 1,1 miliar hingga Rp 1,5 miliar dengan dimensi 55 meter persegi-116 meter persegi dan luas lahan mulai dari 60 meter persegi-105 meter persegi.

Arief menjelaskan, metode pembayaran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi favorit pembeli rumah Jadebotabek dengan angka 77 persen, menyusul kemudian tunai bertahap 12 persen, dan 11 persen kontan.

Dia juga mencatat, terdapat peningkatan komposisi pembayaran melalui KPR sebanyak 75 persen merupakan end user.

"Kemudahan termin pembayaran merupakan pendorong meningkatnya KPR, uang muka juga murah yang bisa dicicil 12 sampai 18 kali. Faktor ini sangat menarik minat konsumen," kata Arief.

Dus, kendati penjualan turun, namun segmen harga tidak terpengaruh. Hal ini terbukti dengan tren yang terus meningkat bila dibandingkan Semester II-2018 yakni sebesar 4,29 persen menjadi rata-rata Rp 11,029 juta per meter persegi. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X