Calon Penyewa Perkantoran Mulai "Cerewet" Tanyakan Akses MRT

Kompas.com - 19/07/2019, 13:40 WIB
Pintu masuk Stasiun MRT Bendungan Hilir yang berada di depan Intiland Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAPintu masuk Stasiun MRT Bendungan Hilir yang berada di depan Intiland Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Head of Markets Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia Angela Wibawa menilai, kehadiran moda raya terpadu (MRT) mulai dipertimbangkan sebagai salah satu faktor pendukung bagi calon penyewa dalam memilih gedung perkantoran.

Sekali pun belum ada riset secara pasti dampak kehadiran MRT terhadap peningkatan permintaan okupansi gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta maupun di luar kawasan tersebut.

"Kalau kita lihat gedung-gedung yang ada akses MRT-nya, itu demand-nya tinggi. Jadi, kebanyakan tenant sekarang karena sudah ada MRT, akan bertanya, gedung ini untuk akses MRT-nya berapa jauh? Basically itu semacam tick in the box," ucap Angela menjawab Kompas.com, Rabu (17/7/2019).

Baca juga: Serapan Perkantoran Jakarta Dinilai Masih Stabil

Demikian halnya dengan riset terkait permintaan gedung perkantoran yang berada di sekitar stasiun MRT.

Namun, menurut Angela, dari sejumlah permintaan yang diajukan calon penyewa ke JLL, banyak yang mempertanyakan keberadaan lokasi stasiun MRT.

"Jadi kalau komparasinya adalah easy access, kalau ada MRT pasti skoringnya lebih tinggi dibandingkan yang tidak ada akses MRT," ucapnya.

Angela mengatakan, sedikit banyak kehadiran MRT mulai mengubah gaya hidup pekerja kantoran yang berada di sekitar koridor yang dilaluinya mulai dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Bila sebelumnya, mereka yang bekerja di kawasan SCBD hanya makan di sekitar kawasan tempat kerjanya, kini mereka memiliki pilihan untuk makan di tempat lain yang lokasinya lebih jauh. Hal itu disebabkan kemudahan akses ini memungkinkan terpangkasnya waktu tempuh.

"Sekarang mereka bisa maka di Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, karena kalau dulu bisa commute 30-40 menit, sekarang cuma 10-15 menit. Itu bisa meningkatkan mindset trend fasilitas dimana orang bisa menghemat waktu," pungkas Angela.

Secara umum, jumlah pasokan ruang perkantoran baru di kawasan CBD Jakarta per Semester I-2019 bertambah 23.500 meter persegi, sehingga total pasokan saat ini mencapai 6,4 juta meter persegi.

Dilihat dari permintaan, 43 persen di antaranya berasal dari perusahaan berbasis teknologi seperti online marketplaces, travel booking, fintech dan online gaming.

Adapun tingkat okupansi ruang perkantoran cukup baik yakni mencapai 76 persen untuk seluruh grade.


Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X