Seksi A Tol dalam Kota Jakarta Dipastikan Beroperasi 2020

Kompas.com - 12/07/2019, 15:55 WIB
Direktur Utama Jakarta Tollroad Development Frans S Sunito memaparkan kondisi Enam Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, didampingi Chief Financial Officer Reynaldi Hermansjah, Selasa (27/11/2018). Hilda B Alexander/Kompas.comDirektur Utama Jakarta Tollroad Development Frans S Sunito memaparkan kondisi Enam Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, didampingi Chief Financial Officer Reynaldi Hermansjah, Selasa (27/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Jakarta Tollroad Development (JTD) Frans S Sunito memastikan pekerjaan enam ruas tol dalam kota Jakarta sesuai target, kendati terdapat perubahan desain mengikuti standar baru konstruksi tahan gempa 1.000 tahun.

"Target Seksi A dari Pulogebang ke Kelapa Gading beroperasi awal 2020 mendatang. Saat ini progresnya sudah lebih dari 50 persen," kata Frans menjawab Kompas.com, Kamis (11/7/2019).

Demikian halnya dengan sisi barat yakni Seksi B Semanan-Grogol yang sudah dimulai konstruksinya. Frans optimistis, Seksi B ini juga sesuai target yang telah ditetapkan.

Meski demikian, dia mengakui, karena ada penyesuaian terhadap aturan konstruksi tahan gempa 1.000 tahun, menimbulkan konsekuensi pada nilai investasi dan besaran tarif.

"Kami sedang bicara dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Pengaruh terhadap investasi tidak besar, kecil, ke tarif juga nggak terlalu pengaruh. Ada naik sedikit," ungkap Frans.

Baca juga: Investasi Enam Ruas Tol Dalam Kota Jakarta Membengkak

Perubahan nilai investasi ini akan tertutupi oleh dana yang diperoleh dari pinjaman sindikasi senilai Rp 13,7 triliun yang melibatkan 29 joint mandated lead arranger dan bookrunner pada 27 November 2018 lalu.

Ada pun untuk perubahan tarif, Frans memastikan tidak akan jauh selisihnya dari yang telah ditetapkan sebelumnya yakni Rp 2.200 per kilometer.

Sebelumnya diberitakan, nilai investasi proyek enam ruas tol dalam kota Jakarta diperkirakan bakal membengkak. Hal ini disebabkan adanya perubahan standar konstruksi gempa yang digunakan.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menjelaskan, standar baru yang akan digunakan yakni memperhitungkan ketahanan konstruksi 1.000 tahun.

Artinya, gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu kawasan dalam kurun 1.000 tahun terakhir, digunakan sebagai acuan penghitungan standar.

"Ini masih kita hitung apakah cukup besar. Saya belum bisa sampaikan besarnya. Tapi dari laporan BUJT yang kita review memang cukup besar, angkanya mungkin di atas 10-15 persen," ungkap Danang, beberapa waktu lalu.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X