Daya Saing Indonesia Naik 11 Peringkat

Kompas.com - 31/05/2019, 10:07 WIB
Ilustrasi bendunganKementerian PUPR Ilustrasi bendungan

JAKARTA, KOMPAS.com - Daya saing Indonesia pada tahun ini kembali meningkat. Pembangunan infrastruktur yang masif turut menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan tersebut.

Berdasarkan riset yang dilakukan IMD World Competitiveness Center, daya saing Indonesia saat ini berada di peringkat 32 atau naik 11 peringkat dari sebelumnya.

Kenaikan ini sekaligus menjadikan Indonesia paling besar di antara negara-negara di Asia Pasifik.

Selain pembangunan infrastruktur, ada tiga faktor lain yang turut diukur yaitu kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi dan efisiensi bisnis.

Rumah Susun STKIP PGRI di TulungagungKementerian PUPR Rumah Susun STKIP PGRI di Tulungagung

"Meski demikian masih dibawah Malaysia (peringkat 22) dan Thailand (peringkat 25). Apabila stok infrastruktur kita stagnan maka daya tarik investasi kita akan kalah dibandingkan negara tetangga," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis, Jumat (31/5/2019).

Menurut dia, pembangunan infrastruktur menjadi pilihan logis dan strategis yang ditempuh pemerintah untuk meningkatkan daya saing sekaligus mengejar ketertinggalan.

Contoh infrastruktur jalan yang dibangun pemerintah.Kementerian PUPR Contoh infrastruktur jalan yang dibangun pemerintah.

Terlebih, Indonesia sempat mengalami krisis ekonomi yang berdampak pada penundaan dan penghentian pembangunan dan pemeliharan infrastruktur.

Oleh karena itu sejak 2015 pemerintah mengalihkan belanja subsidi menjadi belanja produktif berupa pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.

Meski begitu, Basuki menegaskan, dampak pembangunan infrastruktur tidak akan dapat dirasakan masyarakat dalam jangka pendek.

"Untuk itu kita banyak membangun infrastruktur di Papua, Papua Barat, NTT dan kawasan perbatasan," ujarnya.

Gerbang Tol PasuruanKementerian PUPR Gerbang Tol Pasuruan

Daya saing yang baik, imbuh dia, diperlukan untuk menarik investasi baik dari dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan produksi nasional dan membuka lapangan kerja yang akan mengurangi jumlah pengangguran.

"Infrastruktur yang kurang memadai akan membuat produk Indonesia sulit bersaing. Rendahnya konektivitas yang mengakibatkan biaya logistik kita lebih mahal daripada Malaysia, Singapura, atau bahkan Filipina," tutur Basuki.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X