YLKI Anggap Penerapan "One Way" Saat Mudik Bikin Bekasi Merah Total

Kompas.com - 20/05/2019, 15:25 WIB
Tol Jakarta-Cikampek kilometer 39. Karawang mempunyai tiga jalur favorit pemudik, yakni jalur tol, arteri, dan jalur alternatif sepeda motor.KOMPAS.com/FARIDA FARHAN Tol Jakarta-Cikampek kilometer 39. Karawang mempunyai tiga jalur favorit pemudik, yakni jalur tol, arteri, dan jalur alternatif sepeda motor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah menerapkan sistem satu arah atau one way selama 24 jam saat mudik dan balik Lebaran 2019 dinilai perlu dikaji ulang.

Rencananya one way traffic bakal diterapkan pada 30-31 Mei dan 1-2 Juni saat mudik di KM 29 Cikarang Utama hingga Km 262 Brebes Barat, dan saat balik, penerapannya pada 7-9 Juni 2019 dimulai dari KM 189 Palimanan hingga KM 29 Cikarang Utama.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengkhawatirkan, penerapan one way secara maraton dapat mengakibatkan kemacetan luar biasa di jalur arteri.

Sebab pada saat bersamaan, kendaraan dari arah sebaliknya diharuskan melewati jalur arteri. Dengan demikian, terjadi penumpukan kendaraan di jalan tersebut.

Baca juga: Puncak Mudik 31 Mei, Cikarang Utama Bakal Dilintasi 150.000 Kendaraan

"Itu dapat membuat daerah penyangga seperti di Bekasi akan merah total atau tidak bergerak sama sekali. Jadi perlu dipertimbangkan," kata Tulus di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Meski demikian Tulus mengakui, penerapan one way akan memanjakan pemudik yang menggunakan jalan tol. Sebab, dengan sistem ini arus kendaraan diperkirakan menjadi lebih lancar.

Namun ketika penumpukan kendaraan di jalur arteri terjadi, pelayanan transportasi umum diprediksi akan terganggu.

Misalnya, bus antar kota antar provinsi yang seharusnya tiba pada jam tertentu di terminal, justru molor akibat padatnya arus di arteri.

Akibatnya, terjadi penumpukan penumpang yang luar biasa di terminal-terminal yang menyebabkan jadwal perjalanan mereka pun semakin terganggu.

"Ibaratnya, memudahkan yang lain tapi mengorbankan yang lain," ungkapnya.

Tulus menambahkan, penerapan one way dapat tetap diberlakukan dengan cara membatasi penerapannya, sehingga tidak mengganggu arus kendaraan di arteri.

"Pemerintah perlu hati-hatai agar penerapannya enam jam dulu. Kalau sudah cair jangan one way," cetusnya.




Close Ads X