Melepas Jebakan "Negara Berpenghasilan Menengah" (I)

Kompas.com - 14/05/2019, 11:48 WIB
Stiker line antrean pintu masuk MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI yang sudah mulai rusak, Rabu (17/4/2019) KOMPAS.com/Ryana AryaditaStiker line antrean pintu masuk MRT Jakarta Stasiun Bundaran HI yang sudah mulai rusak, Rabu (17/4/2019)

SALAH satu tulang punggung perekonomian Indonesia saat ini adalah pembangunan infrastruktur. Hal ini ditandai dengan semakin baiknya kualitas dan kuantitas infrastruktur, baik infrastuktur ekonomi seperti jalan, kereta api, bandara, energi, pasokan listrik maupun infrastruktur sosial seperti pelayanan kesehatan, rumah sakit, gedung pendidikan, dan lain-lain.

Kini pengembangan infrastruktur di Indonesia sudah menggeliat. Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan regional, Indonesia bertahan dengan kisaran pertumbuhan menengah 5,3 persen-5,6peren.

Kendati angka pertumbuhan ini di bawah harapan atau target pertumbuhan yang sudah ditetapkan, masih ada jeda waktu antara investasi infrastruktur dan hasil pertumbuhan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita.

Bagaimana upaya lanjutan untuk memanfaatkan keberadaan stok infrastruktur yang sudah dibangun, terpelihara operasinya dan hasilnya berkesinambungan secara lintas sektor?

Ketika kualitas infrastruktur di sebuah negeri rendah, itu berarti bahwa perekonomian negara itu berjalan dengan cara yang sangat tidak efisien. Biaya logistik yang sangat tinggi, berujung pada perusahaan dan bisnis yang kekurangan daya saing (karena biaya bisnis yang tinggi).

Baca juga: Melepas Jebakan Negara Berpenghasilan Menengah (II)

Dari sisi kualitas infrastruktur sosial, misalnya, kesulitan masyarakat untuk mendapatkan akses fasilitas kesehatan, atau anak-anak tidak mendapat pasokan gizi yang berkecukupan, selayaknya semakin menurun kasusnya.

Terowongan Kendal menjadi titik penting bagi integrasi antarmoda di kawasan TOD Dukuh Atas.KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN Terowongan Kendal menjadi titik penting bagi integrasi antarmoda di kawasan TOD Dukuh Atas.

Bank Dunia saat ini mendefinisikan kisaran negara berpendapatan menengah antara pendapatan tahunan per kapita 1.006 dollar AS hingga di bawah 3.955 dollar AS untuk negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah, dan kisaran lebih dari 3.956 dollar AS dan di bawah 12.235 dollar AS untuk kelas menengah atas.

Penggolongan ini mencakup serangkaian negara besar seperti Argentina, Brasil, dan China (berpenghasilan menengah atas) dan India, Indonesia, Pakistan, dan Filipina (berpenghasilan menengah bawah).

Studi oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa hanya ada 13 negara dari 101 ekonomi berpenghasilan menengah pada tahun 1960 telah menjadi negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2008. Fenomena ini dikenal sebagai “perangkap berpenghasilan menengah”.

Ekonomi yang sedang tumbuh menemukan dirinya berada dalam pendapatan menengah ketika ia jatuh ke dalam stagnasi yang berkepanjangan setelah fase pertumbuhan tinggi selama lepas landas ekonomi telah berakhir.

Dengan resesi jangka panjang Brasil dan penurunan tingkat pertumbuhan China, konsep ini telah mendapatkan relevansi baru.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X